Hilirisasi Pangan Lokal Diperkuat, UMKM Sorgum dan Singkong Naik Kelas

Penulis: Feri Andika  •  Senin, 28 September 2026 | 14:24:31 WIB
Pelaku UMKM mengolah singkong dengan peralatan bantuan Bapanas di Bogor.

BALI — Pengolahan pangan berbasis teknologi menjadi jalur pemerintah mengerek nilai tambah komoditas lokal sekaligus mendorong UMKM naik kelas. Sorgum dan singkong masuk daftar komoditas yang mulai digarap serius, dari hulu hingga produk siap konsumsi.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menempuh jalur hilirisasi untuk memperpanjang masa simpan dan menaikkan nilai ekonomi bahan pangan yang selama ini dijual dalam bentuk segar. Dukungan diberikan mulai dari peralatan produksi hingga perluasan akses pasar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Sorgum menjadi salah satu komoditas yang disasar. Bapanas mendorong pengolahan berbasis teknologi, termasuk penggunaan freeze dryer, agar produk turunan sorgum seperti nasi, bubur, dan sari sorgum tahan lebih lama tanpa kehilangan kandungan gizi.

Rantai Produksi Diusahakan Tetap di Dalam Negeri

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto menekankan pentingnya inovasi berjalan seiring penguatan kapasitas pelaku usaha. Menurut dia, seluruh rantai produksi diupayakan tetap dikerjakan di dalam negeri.

"Seluruh rantai dikerjakan di dalam negeri dengan memaksimalkan potensi lokal dan teknologi yang sesuai kebutuhan masyarakat. Petani memproduksi, hasilnya diserap oleh UMKM, lalu diolah menjadi produk pangan siap konsumsi yang bernilai tambah," ujar Andriko saat kunjungan ke Bogor, Jawa Barat.

Andriko menyebut produk olahan berbasis komoditas lokal didorong agar tidak berhenti di pasar daerah. Sasaran berikutnya adalah menembus pasar yang lebih luas, dengan dukungan teknologi, akses pasar, dan kolaborasi bersama pemerintah daerah.

Peralatan yang disalurkan Bapanas antara lain mesin parut, drum pencuci, alat peniris atau pengering dengan konveyor, ayakan, heat exchanger, dan bak penampung.

Pengolahan Singkong di Bogor Beralih ke Mesin

Penerapan bantuan terlihat di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor. Pelaku UMKM di wilayah itu mulai meninggalkan cara produksi tradisional dan beralih ke mesin pengolahan.

"UMKM adalah penggerak penting dalam penganekaragaman pangan. Dengan peralatan yang lebih baik, UMKM bisa meningkatkan kualitas, memperluas pasar, dan ikut memperkuat ketahanan pangan nasional," tambah Andriko.

Seorang pelaku UMKM pengolahan singkong di Bogor, Andi, mengaku sebelumnya sebagian besar proses masih dikerjakan manual. Setelah menerima bantuan peralatan, perubahan paling terasa pada kebersihan dan konsistensi hasil produksi.

"Dulu pengolahan masih manual dan sangat bergantung pada cara tradisional. Sekarang, dengan bantuan dari Bapanas, prosesnya lebih higienis dan kualitas produk lebih stabil," kata Andi saat menerima kunjungan Andriko di Bogor.

Bantuan itu membuka peluang produk turunan baru. Singkong dapat diolah menjadi tepung tapioka maupun mocaf yang pasarnya lebih luas.

Industri Makanan dan Minuman Jadi Penopang IKM

Dorongan hilirisasi juga menjadi bagian kebijakan Kementerian Pertanian. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai pengolahan komoditas pertanian merupakan jalan cepat bagi Indonesia untuk mandiri dan berpengaruh secara global.

"Hilirisasi produk pertanian merupakan jalan cepat Indonesia untuk menjadi negara mandiri dan berpengaruh secara global," kata Amran dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta.

Data makro memperlihatkan ruang industri pengolahan masih lebar. Mengutip data BPS, Kementerian Perindustrian mencatat industri pengolahan tumbuh 5,30 persen pada 2025, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional 5,11 persen. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto mencapai 19,07 persen.

  • Industri makanan dan minuman mencakup sekitar 39,7 persen dari total unit usaha industri kecil dan menengah (IKM) pada 2025.
  • Sektor itu menyerap 36,5 persen tenaga kerja IKM.
  • Industri pengolahan tumbuh 5,30 persen pada 2025, di atas pertumbuhan ekonomi 5,11 persen.
  • Kontribusi industri pengolahan ke PDB mencapai 19,07 persen.

Besarnya porsi IKM pangan menunjukkan perannya dalam menopang aktivitas ekonomi, membuka lapangan kerja, dan memberdayakan masyarakat. Karena itu, hilirisasi bagi UMKM pangan dinilai tidak cukup hanya dengan menambah atau mengganti mesin.

Penguatan teknologi perlu berjalan bersama peningkatan kualitas produk, penerapan standar keamanan pangan, pengembangan kemasan, standardisasi, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar. Jika seluruh rantai dibangun terintegrasi, mulai dari petani sebagai pemasok bahan baku hingga UMKM sebagai pengolah, nilai tambah yang tercipta bisa dinikmati lebih merata.

Reporter: Feri Andika
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top