BALI — Pernyataan optimisme itu bukan tanpa bukti. Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Juli 2026 menunjukkan kesehatan yang solid: pendapatan negara tumbuh 21,3 persen secara tahunan (yoy), sementara belanja negara meningkat 18,2 persen yoy. Alhasil, defisit fiskal terjaga di level tipis 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka-angka ini dipaparkan langsung oleh Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta. "Perbaikan pengelolaan APBN juga terus dilakukan antara lain melalui reformasi sistem perpajakan dan bea cukai, percepatan belanja dengan fokus pada program yang beri multiplier effect bagi pertumbuhan dan kesejahteraan, serta menjaga defisit dan utang dalam batas aman," jelasnya.
Ketahanan ekonomi tak hanya terlihat dari sisi fiskal. Indikator harga menunjukkan inflasi Agustus 2026 tercatat landai di level 3,19 persen yoy. Dari eksternal, neraca perdagangan nasional konsisten membukukan surplus sebesar USD 3,7 miliar sepanjang Januari–Juli 2026.
Cadangan devisa pun berada di posisi nyaman, mencapai USD 146 miliar pada akhir Agustus. Dana segar itu menjadi bantalan utama menghadapi gejolak nilai tukar dan memastikan kemampuan impor serta kewajiban utang luar negeri tetap aman.
Pasar keuangan domestik perlahan menunjukkan denyut nadi yang lebih kuat setelah menghadapi tekanan berat di pertengahan tahun. Nilai tukar rupiah berhasil menguat ke level Rp17.720 per dolar AS pada akhir Agustus, membaik signifikan dari titik terlemahnya yang sempat menyentuh Rp18.171 pada Juni lalu.
Kepercayaan di pasar modal ikut terpulihkan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik ke posisi 6.525,5, sementara imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stabil di kisaran 7,0 persen. Stabilitas yield ini menjadi sinyal bahwa investor tidak menuntut premi risiko berlebihan untuk memegang aset pemerintah Indonesia.
Pengakuan internasional atas prospek ekonomi Indonesia kembali ditegaskan. S&P Global Ratings mempertahankan sovereign rating Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Lembaga pemeringkat asal China, Lianhe Ratings Global, bahkan memberikan predikat lebih tinggi, yakni AAA dengan outlook stabil.
Keyakinan itu diterjemahkan investor asing menjadi aksi nyata. Aliran modal asing masuk (capital inflow) hingga 28 Agustus 2026 tercatat mencapai Rp140,1 triliun, menunjukkan ekspektasi imbal hasil yang menarik di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi moneter, likuiditas domestik terpantau longgar dan memadai. Uang beredar (M0) pada pekan ketiga Agustus tumbuh 15,1 persen yoy. Ekspansi kredit perbankan juga menunjukkan akselerasi, tumbuh 13,6 persen yoy pada Juli 2026—sinyal bahwa intermediasi keuangan mengalir deras ke sektor riil.
Kombinasi data fiskal yang sehat, inflasi rendah, dan masuknya modal asing ini menjadi modal berharga bagi pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun, meskipun risiko perlambatan ekonomi global masih membayangi prospek ekspor nasional.