BALI — Puluhan porter dengan seragam biru lengan panjang bertuliskan 'Tulamben Porter' terlihat bergegas menyambut mobil-mobil yang tiba di bibir Pantai Tulamben, Minggu (30/8). Mereka sigap membawakan tabung oksigen dan perlengkapan selam lainnya menuju tepi pantai. Kondisi ini menjadi pemandangan rutin yang menghidupkan kembali roda ekonomi warga desa di pesisir timur Bali itu usai sempat lesu di tengah keterbatasan kunjungan.
Tulamben dikenal sebagai lokasi menyelam kelas dunia berkat bangkai kapal USAT Liberty yang tenggelam di kedalaman dangkal. Namun, popularitas destinasi ini tidak serta-merta menjamin pendapatan tetap bagi penduduk lokal. Para porter, yang sebagian besar adalah perempuan, menggantungkan hidup sepenuhnya pada jumlah wisatawan yang datang.
Salah satu porter, Ni Kadek Mustini, menyebut ada empat kelompok pramuantar yang bekerja secara terorganisir di Tulamben. Mereka bermitra dengan perusahaan diving tertentu sehingga tidak ada rebutan order antarporter.
"Kalau wisatawan ramai kami dapat lebih. Kalau sepi, yang sedikit kami dapat uang," katanya.
Tarif normal porter adalah Rp 15 ribu untuk sekali angkut perlengkapan menyelam ke tepi pantai. Saat high season seperti sekarang, pendapatan mereka bisa menyentuh Rp 105 ribu per hari. Angka ini bahkan bisa melejit hingga Rp 225 ribu saat kunjungan memuncak.
Namun di luar musim ramai, situasinya berbalik. Saat Tulamben sepi, porter bisa hanya membawa pulang Rp 30 ribu dalam sehari. Bahkan ketika perusahaan mitra tidak mendapat klien, mereka sama sekali tidak akan mengantongi penghasilan.
Ni Nengah Jesani, pramuantar lainnya, mengungkapkan kegelisahan yang sama. "Saat dapat penghasilan sedikit bahkan kadang tidak dapat, kami hanya bisa pasrah," ujarnya.
Menariknya, pekerjaan para porter tidak dimulai saat turis datang. Sejak pagi, sebelum aktivitas menyelam dimulai, mereka lebih dulu membersihkan sampah di sekitar pantai. Rutinitas ini berlangsung hingga sore hari sebelum mereka pulang ke rumah.
Kepala Desa Tulamben, I Nyoman Pica, mengkonfirmasi bahwa puncak kunjungan baru terjadi di pertengahan tahun. Kondisi ini sangat bergantung pada cuaca dan kejernihan air laut. Pekan lalu misalnya, kunjungan sempat menurun drastis karena ombak besar dan air keruh.
Ramainya penyelam di Tulamben tidak hanya menguntungkan porter. Kepala Desa Pica menjelaskan efek berantai ini dirasakan oleh pemandu selam, sopir, hingga pedagang di sekitar pantai. Namun ia mengingatkan bahwa kunjungan harian tidak selalu stabil.
"Kunjungan wisatawan tergantung kondisi di lapangan, jadi tidak selalu ramai tiap hari meski sedang masa high season," jelasnya.
Bagi Jesani dan rekan-rekannya, keramaian wisatawan adalah harapan untuk masa depan yang lebih baik. "Semoga wisatawan yang datang ke Pantai Tulamben selalu ramai, karena ini merupakan pekerjaan kami satu-satunya," tutupnya penuh harap.
Bagi traveler yang berencana menyelam di Tulamben, musim kemarau antara Juni hingga September adalah waktu paling ideal untuk menikmati visibilitas bawah laut yang jernih. Datanglah lebih awal untuk mendapatkan pengalaman menyelam yang tenang, sekaligus memberi dampak langsung bagi perekonomian warga setempat.