Tato Tradisional Kalinga di Buscalan, Karya Mambabatok Termuda yang Menjaga Warisan Apo Whang-od

Penulis: Gilang Permana  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 20:21:01 WIB
Mambabatok termuda di Desa Buscalan, Princess Sarah Baydon, menorehkan tato tradisional Kalinga menggunakan duri pohon jeruk bali dan tinta jelaga arang.

BALI — Di balik kabut tebal yang menyelimuti lereng Cordillera, Desa Buscalan di Provinsi Kalinga, Filipina Utara, telah menjadi destinasi ziarah bagi pelancong yang mencari buah tangan paling orisinal: tato tribal yang ditorehkan secara manual. Desa yang hanya bisa diakses dengan berjalan kaki ini adalah rumah bagi Apo Whang-od (109 tahun), seniman tato hidup tertua di Filipina yang telah menekuni seni mambabatok selama lebih dari 90 tahun. Namun, di balik ketenaran sang legenda, ada kisah regenerasi yang tak kalah menarik: para keponakan buyutnya kini meneruskan warisan tersebut.

Daya Tarik Utama: Menyaksikan Tradisi Tato Tangan yang Langka

Keunikan Buscalan terletak pada metode pembuatan tato yang tidak menggunakan mesin listrik. Para mambabatok, sebutan untuk ahli tato tradisional, menggunakan duri pohon jeruk bali yang dirangkai pada bilah bambu tipis. Tinta hitam terbuat dari jelaga arang yang dicampur air, ditorehkan ke kulit dengan ketukan ritmis dari batang kayu.

Motif-motif yang dihasilkan bukan sekadar hiasan. Setiap pola memiliki makna spiritual dan alam: deretan segitiga menggambarkan pegunungan dan kesuburan, sarang lebah heksagonal melambangkan kekuatan, sementara lingkaran dengan titik-titik di sekelilingnya mewakili matahari dan kehidupan. Bagi masyarakat Kalinga, tato adalah penanda status dan perlindungan spiritual.

Aktivitas yang Bisa Dilakukan

  • Mendapatkan tato tradisional langsung dari generasi penerus Apo Whang-od, seperti Princess Sarah Baydon yang telah menekuni seni ini sejak 2016.
  • Trekking menyusuri sawah bertingkat dan hutan pohon laurel yang harum, dengan durasi sekitar satu jam dari titik parkir kendaraan.
  • Menikmati kuliner lokal sederhana, seperti nasi panas dengan daging babi berlemak, yang dijual di warung dekat area lookout.
  • Berkeliling desa untuk mengamati kehidupan sehari-hari masyarakat Kalinga yang masih sangat tradisional.

Cara Menuju Lokasi

Perjalanan menuju Buscalan dimulai dari Manila dengan perjalanan darat selama 12 jam melewati pegunungan Cordillera yang berkelok-kelok. Dari kota terdekat, pengunjung harus melanjutkan perjalanan dengan trekking satu jam menuju jurang yang dipenuhi pepohonan laurel. Bagian paling menantang adalah menaiki trem darurat—sebuah kotak kayu sempit dengan sistem katrol yang digerakkan oleh mesin jip—yang awalnya difungsikan untuk mengangkut pasokan logistik.

Tiket Masuk & Tips Berkunjung

Tidak ada sistem reservasi resmi untuk bertemu Apo Whang-od, dan ketersediaan sang seniman tidak pernah bisa dijamin. Kantor Pariwisata Provinsi Kalinga mencatat sekitar 40.000 wisatawan mengunjungi desa ini setiap tahunnya. Untuk memastikan pengalaman, pengunjung disarankan datang pada musim kemarau (Januari-April), meskipun cuaca di pegunungan tetap tidak menentu dan sering turun hujan.

Wisatawan yang ingin ditato oleh Whang-od secara langsung harus siap dengan ketidakpastian; sang seniwati sempat dilarikan ke rumah sakit 80 kilometer dari desa karena sakit dan tidak kembali selama beberapa hari. Alternatif terbaik adalah meminta layanan dari murid-muridnya yang telah terlatih, seperti Baydon yang mempelajari teknik langsung dari Whang-od sejak 2016.

Pengalaman yang Membekas

Proses penatoan terasa menyengat, namun sensasi yang lebih dalam adalah koneksi emosional yang terjalin. Baydon, yang wajahnya mirip dengan penulis artikel asal, mengaku bahwa Whang-od mengajarinya dan semua perempuan muda di desa. Tato matahari yang baru saja selesai ditorehkan menjadi simbol kehidupan yang akan terus dikenang kemanapun pemiliknya pergi. Bagi wisatawan yang mencari pengalaman budaya otentik, Buscalan menawarkan lebih dari sekadar suvenir—ini adalah perjalanan spiritual yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan tradisi Kalinga. Waktu ideal untuk berkunjung adalah minimal dua hari satu malam untuk merasakan atmosfer desa dan memastikan proses pembuatan tato berjalan tanpa tergesa-gesa.

Reporter: Gilang Permana
Sumber: cntraveler.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top