BRIN Tetapkan Sistem Subak Bali Jadi Contoh Global Pengelolaan Air, Begini Cara Kerjanya di Jatiluwih

Penulis: Haris Maulana  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:11:01 WIB
Petani anggota subak Desa Jatiluwih, Tabanan, memulai tradisi menanam padi bersama atau nandur di sawah berundak, Rabu (19/8/2026).

TABANAN — Tradisi menanam padi secara bersama yang dikenal dengan istilah nandur kembali berlangsung di subak Desa Jatiluwih, Tabanan, Rabu (19/8/2026). Momen ini bukan sekadar ritual budaya, melainkan menjadi bukti nyata bagaimana sistem irigasi tradisional Bali mampu bertahan dan direplikasi di tingkat global.

BRIN menilai subak tidak hanya berfungsi sebagai saluran irigasi teknis. Lebih dari itu, sistem ini merupakan tata kelola air berbasis kearifan lokal yang melibatkan aspek sosial, spiritual, dan ekologi secara terpadu.

Filosofi Tri Hita Karana yang Menjadi Fondasi Subak

Keunggulan subak berakar pada filosofi Tri Hita Karana, yakni keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Prinsip ini diterjemahkan dalam pengaturan pembagian air yang adil dan demokratis di antara para petani anggota subak.

Dalam praktiknya, air irigasi didistribusikan berdasarkan kesepakatan bersama melalui sistem parit dan pura ulun suwi yang menjadi pusat kendali. Setiap petani mendapatkan jatah air sesuai luasan lahan yang dikelola, tanpa ada pihak yang mendominasi.

Sistem pembagian yang transparan ini dinilai mampu mencegah konflik agraria dan memastikan produktivitas padi tetap stabil sepanjang musim tanam. BRIN menyebut pendekatan ini selaras dengan target pertanian rendah emisi yang tengah digalakkan pemerintah.

Jatiluwih Jadi Bukti Nyata Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Desa Jatiluwih sendiri telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO sejak 2012. Lanskap sawah berundak yang dikelola dengan sistem subak di kawasan ini menjadi daya tarik utama, baik bagi wisatawan maupun peneliti pertanian dari berbagai negara.

Para petani di Jatiluwih masih memegang teguh kalender pertanian tradisional dan memilih varietas padi lokal yang adaptif terhadap perubahan iklim. Mereka menghindari penggunaan pupuk kimia berlebihan dan mengandalkan bahan organik dari limbah pertanian dan ternak.

BRIN menegaskan bahwa praktik ini membuktikan bahwa produktivitas pertanian tidak harus mengorbankan kelestarian lingkungan. Subak justru menjadi model pengelolaan sumber daya yang bisa diadaptasi di daerah lain dengan karakteristik geografis serupa.

Potensi Subak sebagai Solusi Krisis Air Modern

Di tengah ancaman krisis air yang melanda berbagai wilayah, subak menawarkan pendekatan yang relevan. Sistem ini mengajarkan pentingnya pengelolaan sumber daya secara kolektif dan berkelanjutan, bukan eksploitasi individu yang saling bersaing.

Pengakuan dari BRIN diharapkan dapat mendorong riset lebih lanjut tentang bagaimana teknologi modern dapat diintegrasikan ke dalam sistem subak tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisionalnya. Upaya ini penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional di masa depan.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: bali.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top