DENPASAR — Penurunan harga telur ayam ras di pasaran tidak serta-merta menyeret harga telur dari peternakan sistem bebas sangkar atau cage-free. Di Bali, produk telur dengan label kesejahteraan hewan ini memiliki segmen pasarnya sendiri yang relatif kebal terhadap gejolak harga komoditas harian.
“Ketika harga telur ayam ras di pasar mengalami penurunan, harga jual Telur Gembira tidak langsung ikut turun karena kami tidak mengikuti fluktuasi harga harian telur komoditas,” ujar Sudarwata, Minggu (16/8/2026).
Peternakan Ayam Gembira menerapkan sistem pemeliharaan yang berbeda dari peternakan ayam ras pada umumnya. Ayam-ayam di peternakan ini tidak ditempatkan dalam sangkar, melainkan diberi ruang untuk bergerak, mengais, bertengger, dan melakukan perilaku alaminya.
Perbedaan sistem ini berimbas pada struktur biaya produksi. Selain itu, pakan ternak juga diracik secara mandiri dengan memanfaatkan bahan berkualitas, bahan lokal, serta tambahan pakan alami. Seluruh proses ini menjadi karakter produksi yang membedakan Telur Gembira dari telur komoditas biasa.
Sudarwata menegaskan bahwa Telur Gembira tidak diposisikan sebagai telur komoditas. Produk ini menyasar konsumen yang mempertimbangkan proses pemeliharaan ayam, kualitas produk, ketelusuran, hingga aspek keberlanjutan.
Pasarnya mencakup keluarga, restoran, kafe, hotel, dan konsumen yang memperhatikan proses produksi pangan. Dengan karakter konsumen seperti ini, keputusan membeli tidak semata-mata ditentukan oleh perubahan harga telur ayam ras di pasar.
“Pelanggan Telur Gembira tidak semata-mata membeli berdasarkan harga. Faktor kualitas pelayanan, kepercayaan, serta nilai yang ditawarkan dalam proses produksi turut menjadi pertimbangan,” katanya.
Meski memiliki pasar khusus, peternakan cage-free tetap menghadapi tantangan yang sama, terutama dalam hal biaya produksi. Kenaikan harga bahan baku pakan masih menjadi beban yang harus diperhitungkan dalam menjalankan usaha.
Kondisi ini menjadi gambaran tekanan yang dihadapi para peternak. Peternak ayam petelur asal Tunjuk, Tabanan, I Wayan Sukasana, sebelumnya menyebut harga telur di tingkat peternak berada di kisaran Rp42.000-Rp43.000 per krat. Untuk jenis tertentu mencapai sekitar Rp47.000 per krat, setelah sebelumnya sempat berada di sekitar Rp40.000 per krat.
Di tengah biaya produksi yang meningkat, terutama harga jagung, dedak, dan konsentrat, Sudarwata menilai peternak perlu memiliki identitas dan pasar sendiri. Dengan begitu, produk tidak sepenuhnya bergantung pada perubahan harga telur di pasar komoditas.
“Setiap peternak perlu memiliki identitas produk, menjaga kualitas, membangun pasar, serta meningkatkan nilai tawar agar tidak hanya bergantung pada harga pasar,” ujarnya.
Permintaan terhadap Telur Gembira disebut masih terus berkembang. Produksi saat ini bahkan belum selalu mampu memenuhi kebutuhan pelanggan. Kondisi tersebut mendorong rencana penambahan kapasitas produksi di lokasi berbeda.
Rencana pengembangan tersebut tetap akan mempertahankan sistem cage-free, prinsip kesejahteraan hewan, dan standar pemeliharaan yang selama ini menjadi karakter Peternakan Ayam Gembira. Sudarwata menegaskan, cage-free bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan bagian dari cara beternak yang menempatkan kesejahteraan hewan sebagai dasar produksi.
Konsep ini pun dikaitkan dengan nilai kearifan lokal Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, manusia, dan alam.