Relawan Demokrat Bali Bersihkan Kawasan Pura Rambut Siwi, Tanam Pohon dan Lepas Burung Merpati untuk Jaga Pariwisata Jembrana

Penulis: Ivan Setiawan  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 21:56:31 WIB
Relawan Demokrat Bali memimpin aksi kebersihan di kawasan Pura Rambut Siwi, Jembrana, dengan menanam pohon dan melepas burung merpati.

NEGARA — Aksi lingkungan itu dipimpin langsung oleh Ketua DPD Partai Demokrat Bali Made Mudarta. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata merawat Ibu Pertiwi, bukan sekadar seremonial belaka. Kawasan Pura Rambut Siwi dipilih karena memiliki nilai spiritual, sejarah, dan keindahan alam yang perlu dijaga bersama-sama.

Menurut Mudarta, persoalan sampah tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah atau kelompok tertentu. Setiap individu memiliki tanggung jawab yang sama, terlebih Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata sebagai sumber penghidupan masyarakat.

Pura Dang Kahyangan dengan Jejak Spiritual Danghyang Nirartha

Pura Rambut Siwi merupakan salah satu pura Dang Kahyangan yang berkaitan erat dengan perjalanan spiritual Danghyang Nirartha. Tokoh suci ini disebut pernah bertapa di kawasan Jembrana dan memberikan potongan rambutnya kepada masyarakat setempat sebagai simbol berkah dan perlindungan, yang kemudian melahirkan nama Rambut Siwi.

Keunikan pura ini juga terletak pada posisinya yang berdiri di atas tebing. Dari ketinggian tersebut, hamparan Samudra Hindia terlihat jelas, menjadikannya daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun umat yang datang untuk beribadah.

Menjaga Kebersihan untuk Masa Depan Pariwisata Bali

Mudarta menilai kebersihan kawasan Rambut Siwi berkaitan langsung dengan kenyamanan pengunjung dan citra destinasi. Lingkungan yang bersih dan asri akan memberikan rasa nyaman bagi wisatawan sekaligus menjaga reputasi Bali di mata dunia.

“Ini gerakan merawat Ibu Pertiwi. Keunggulan kita adalah adat dan budaya. Sekarang kita getarkan juga gerakan membersihkan alam. Demokrat ingin memberikan contoh nyata bahwa sampah adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Negara, Jumat.

Tri Hita Karana: Harmoni Alam, Manusia, dan Tuhan

Mudarta mengaitkan semangat aksi ini dengan konsep Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan. Menurutnya, kepedulian terhadap alam adalah bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta.

“Tuhan menciptakan alam, kita yang bertugas merawatnya,” katanya menegaskan.

Ia menambahkan, semangat tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Membersihkan sampah, menanam pohon, dan menjaga kawasan pantai adalah bentuk nyata yang bisa dimulai dari lingkungan terdekat.

Warisan Bersih untuk Generasi Mendatang

Kegiatan di Rambut Siwi menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan langkah besar. Kepedulian dapat dimulai dari tempat terdekat dan dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh elemen masyarakat.

Pesan yang ingin dibangun sederhana: alam yang bersih bukan hanya untuk dinikmati hari ini, tetapi juga menjadi warisan bagi generasi mendatang. Menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan, budaya, pariwisata, sekaligus masa depan Bali.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: lenteraesai.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top