BALI — Pencegahan stunting tidak hanya soal memastikan anak makan dengan lahap. Ada satu aspek penting lain yang sering terlewat: stimulasi perkembangan sejak dini. Lewat interaksi sederhana seperti bermain, mengobrol, atau membacakan cerita, kemampuan anak bisa terasah optimal.
Menyadari hal ini, Najwa Khairunnisa, mahasiswa Psikologi Universitas Hasanuddin (UNHAS) yang tergabung dalam KKN Tematik Stunting Gelombang 116, membagikan buku saku berjudul "Panduan Praktis Stimulasi Perkembangan Anak untuk Pencegahan Stunting" kepada kader Posyandu Flamboyan 1, Kelurahan Ujung Lare, Parepare pada 10 Agustus 2026 lalu.
Buku saku ini dirancang khusus agar mudah dipahami, baik oleh kader maupun orang tua. Materinya tidak melulu teori berat, melainkan panduan praktis yang bisa langsung diterapkan di rumah.
Ada dua hal utama yang ditekankan dalam buku ini:
Stimulasi tidak harus mahal atau rumit. Justru momen sehari-hari bersama ibu adalah kesempatan emas untuk belajar. Berikut beberapa contoh yang bisa disesuaikan dengan usia si kecil:
Kader Posyandu adalah ujung tombak layanan kesehatan di masyarakat. Mereka dekat dengan para ibu dan menjadi penghubung informasi yang paling dipercaya di lingkungannya. Dengan membekali kader lewat buku saku, informasi tentang stimulasi anak bisa tersebar lebih luas dan berkelanjutan.
Program ini tidak berhenti di Posyandu Flamboyan 1. Rencananya, buku saku yang sama akan dibagikan ke tiga posyandu lainnya di Kelurahan Ujung Lare. Harapannya, semakin banyak kader yang punya media edukasi untuk membantu orang tua memahami pentingnya pendampingan tumbuh kembang.
Stunting bukan hanya tentang tinggi badan yang kurang. Lebih dari itu, dampaknya bisa memengaruhi kemampuan kognitif anak di masa depan. Memberikan stimulasi yang tepat berarti berinvestasi untuk masa depan si kecil.
Interaksi hangat antara orang tua dan anak lewat bermain, berbicara, dan membaca adalah fondasi terbaik. Dengan pengetahuan yang tepat, ibu bisa menjadi "guru" pertama yang hebat bagi buah hatinya. Kegiatan KKN UNHAS ini menjadi pengingat bahwa pencegahan stunting harus menyentuh aspek gizi sekaligus tumbuh kembang anak secara menyeluruh.