BALI — Berdasarkan pantauan laman resmi logammulia.com, Antam membanderol perak batangan turun tipis dari posisi Rp 41.950 pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Untuk ukuran 250 gram, konsumen merogoh kocek Rp 10.837.500. Sementara varian 500 gram dibanderol Rp 20.750.000. Antam juga masih memasarkan produk perak butiran murni dengan kadar 99,95 persen.
Pergerakan ini berlawanan arah dengan pasar internasional. Data tradingeconomics.com mencatat harga perak dunia justru naik 1,05 persen menjadi US$ 62,14 per ons. Namun, penguatan tersebut terjadi setelah dua sesi beruntun harga perak global tertekan akibat eskalasi konflik di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak mentah.
Iran menyerang apa yang mereka sebut sebagai target-target bermusuhan di selat strategis tersebut, menyusul ledakan di dekat Pulau Qeshm. Teheran juga berupaya melarang kapal-kapal AS dan Israel melintas. Negara-negara yang dianggap musuh diwajibkan membayar kompensasi sebelum diizinkan lewat.
Situasi ini menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi dan spekulasi pengetatan kebijakan moneter agresif oleh Federal Reserve (The Fed). Para pejabat bank sentral AS semakin lantang mengisyaratkan kesiapan menaikkan suku bunga. Pasar memperkirakan kenaikan 25 basis poin pada September, ekspektasi yang sempat menekan harga perak karena logam mulia dianggap kurang menarik di lingkungan suku bunga tinggi.
Fundamental permintaan sektor industri tetap menjadi bantalan utama harga perak di tengah tekanan makro. Data terbaru menunjukkan impor bijih yang mengandung perak oleh China melonjak 62,5 persen year-on-year pada Juni menjadi 219.000 ton. Angka ini menegaskan kebutuhan manufaktur global terhadap logam industri ini masih solid, meskipun sentimen pasar jangka pendek diwarnai ketidakpastian geopolitik.
Berbeda dengan perak, harga emas dunia mencatat penguatan ke level tertinggi dalam tujuh minggu pada Kamis (6/8/2026). Harga emas spot naik 0,6 persen menjadi US$ 4.271,33 per ons, melanjutkan tren positif dalam empat sesi beruntun. Kontrak berjangka emas AS juga menguat 0,6 persen ke US$ 4.330,20.
Penguatan ini didorong harapan dibukanya kembali Selat Hormuz melalui usulan kesepakatan antara Iran dan Oman. "Emas berusaha mempertahankan kenaikan baru-baru ini di tengah meningkatnya optimisme terkait Selat Hormuz. Harapan akan terobosan diplomatik yang memulihkan aliran minyak telah meredakan kekhawatiran inflasi," ujar Analis Tradu.com, Nikos Tzabouras.
Ekspektasi pasar mengenai kenaikan suku bunga AS pada September pun telah turun menjadi 55 persen, dari sebelumnya 67 persen dua hari lalu. Bagi investor domestik yang ingin mengoleksi logam mulia fisik, penurunan harga perak Antam hari ini bisa menjadi momen akumulasi di tengah volatilitas pasar global yang masih tinggi.