BALI — Kabar ini disampaikan langsung oleh Menteri ESDM di sela-sela kunjungan kerjanya, menegaskan bahwa pemerintah serius mendorong diversifikasi energi untuk rumah tangga. Langkah ini bukan sekadar wacana; pengujian di Lemigas merupakan tahap verifikasi teknis yang menentukan kelayakan dan keamanan tabung CNG sebelum digunakan secara luas oleh konsumen.
Bahlil menuturkan, hasil pengujian di Lemigas menunjukkan progres yang menggembirakan. "Pengujian tabung CNG di Lemigas sudah masuk tahap akhir," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip di Jakarta. Pernyataan ini memberikan sinyal kuat bahwa infrastruktur pendukung konversi energi tengah disiapkan secara matang, bukan setengah-setengah.
Keberadaan Lemigas sebagai lembaga penguji resmi menjadi kunci dalam rantai persetujuan ini. Tanpa lolos dari balai penguji milik pemerintah ini, tabung CNG tidak akan mendapatkan sertifikasi kelayakan. Artinya, tahap akhir yang disebutkan Bahlil merupakan gerbang terakhir sebelum produk ini bisa diproduksi secara masif oleh industri dalam negeri.
Namun, tantangan besar masih membentang. Perbedaan tekanan gas antara CNG dan LPG menuntut perubahan pada kompor dan regulator yang digunakan masyarakat. Pemerintah pun harus menyiapkan skema sosialisasi dan pendampingan agar transisi ini berjalan mulus tanpa mengorbankan kenyamanan konsumen rumah tangga.
Setelah sertifikasi dari Lemigas keluar, langkah selanjutnya adalah memastikan kesiapan ekosistem pendukung, termasuk stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) yang saat ini jumlahnya masih terbatas. Pemerintah menilai perluasan infrastruktur ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dirampungkan seiring dengan rencana produksi tabungnya. Dengan begitu, kehadiran CNG tidak hanya menjadi alternatif, tetapi benar-benar menjadi solusi nyata atas ketergantungan impor LPG.