Tabung CNG Pengganti LPG Kini Diuji di Lemigas, Bahlil Sebut Tahap Akhir Tinggal Menunggu Sertifikasi

Penulis: Haris Maulana  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 14:57:01 WIB
Menteri ESDM menyatakan pengujian tabung CNG di Lemigas telah memasuki tahap akhir sebelum sertifikasi kelayakan.

BALI — Kabar ini disampaikan langsung oleh Menteri ESDM di sela-sela kunjungan kerjanya, menegaskan bahwa pemerintah serius mendorong diversifikasi energi untuk rumah tangga. Langkah ini bukan sekadar wacana; pengujian di Lemigas merupakan tahap verifikasi teknis yang menentukan kelayakan dan keamanan tabung CNG sebelum digunakan secara luas oleh konsumen.

Mengapa CNG dan Bukan LPG?

Latar belakang percepatan ini cukup jelas: Indonesia masih sangat bergantung pada LPG impor untuk kebutuhan memasak. Sementara itu, cadangan gas bumi dalam negeri melimpah. Dengan mengalihkan sebagian kebutuhan ke CNG, pemerintah berharap dapat mengurangi beban impor yang mencapai jutaan ton per tahun sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi domestik.

Bahlil menuturkan, hasil pengujian di Lemigas menunjukkan progres yang menggembirakan. "Pengujian tabung CNG di Lemigas sudah masuk tahap akhir," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip di Jakarta. Pernyataan ini memberikan sinyal kuat bahwa infrastruktur pendukung konversi energi tengah disiapkan secara matang, bukan setengah-setengah.

Tahapan yang Dilalui dan Standar Keamanan

Proses di Lemigas bukan perkara sederhana. Tabung CNG harus melewati serangkaian uji ketat yang meliputi uji tekanan, ketahanan material, hingga simulasi kondisi ekstrem. Standar ini diadopsi untuk memastikan produk yang nantinya beredar di masyarakat aman digunakan, mengingat gas alam bertekanan tinggi memiliki karakteristik berbeda dengan LPG.

Keberadaan Lemigas sebagai lembaga penguji resmi menjadi kunci dalam rantai persetujuan ini. Tanpa lolos dari balai penguji milik pemerintah ini, tabung CNG tidak akan mendapatkan sertifikasi kelayakan. Artinya, tahap akhir yang disebutkan Bahlil merupakan gerbang terakhir sebelum produk ini bisa diproduksi secara masif oleh industri dalam negeri.

Dampak yang Ditunggu Masyarakat

Jika tabung CNG ini nantinya resmi diluncurkan, dampak yang paling dirasakan adalah hadirnya alternatif bahan bakar yang harganya berpotensi lebih murah dibanding LPG bersubsidi. Pemerintah selama ini menggelontorkan triliunan rupiah untuk selisih harga LPG 3 kg. Dengan adanya CNG, tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diharapkan bisa berkurang secara signifikan.

Namun, tantangan besar masih membentang. Perbedaan tekanan gas antara CNG dan LPG menuntut perubahan pada kompor dan regulator yang digunakan masyarakat. Pemerintah pun harus menyiapkan skema sosialisasi dan pendampingan agar transisi ini berjalan mulus tanpa mengorbankan kenyamanan konsumen rumah tangga.

Setelah sertifikasi dari Lemigas keluar, langkah selanjutnya adalah memastikan kesiapan ekosistem pendukung, termasuk stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) yang saat ini jumlahnya masih terbatas. Pemerintah menilai perluasan infrastruktur ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dirampungkan seiring dengan rencana produksi tabungnya. Dengan begitu, kehadiran CNG tidak hanya menjadi alternatif, tetapi benar-benar menjadi solusi nyata atas ketergantungan impor LPG.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top