BALI — Perempat final Piala Dunia 2026 mempertemukan Argentina dan Swiss di stadion yang akan dipenuhi 80.000 pasang mata. Laga ini bukan sekadar perebutan tiket semifinal. Ini duel filosofi: kejeniusan individu melawan disiplin kolektif.
Argentina berkali-kali selamat dari lubang jarum berkat kelicikan dan visi La Pulga. Di babak 16 besar, Messi menciptakan tiga peluang emas dari situasi buntu, termasuk assist yang membelah pertahanan lawan.
Pelatih Swiss, Murat Yakin, sadar betul bahaya ini. “Kami tidak bisa memberi Messi ruang satu meter pun di kotak penalti,” ujarnya dalam konferensi pers jelang laga.
Kunci pertandingan justru terletak di tengah, bukan di pertahanan. Swiss mengandalkan pengalaman Granit Xhaka sebagai jangkar pemutus suplai bola ke Messi.
Di sisi lain, Enzo Fernandez tampil impresif sebagai pengatur ritme Argentina. Jika Fernandez mampu melepaskan tekanan dan mengirim bola cepat ke sayap, pertahanan Swiss yang rapi bisa goyah.
Pertemuan terakhir kedua tim di Piala Dunia 2014 berakhir 1-0 untuk Argentina lewat gol Angel Di Maria. Namun, Swiss datang dengan modal tak terkalahkan di fase grup, hanya kebobolan satu gol dari tiga laga.
Kekuatan Swiss bukan hanya bertahan. Serangan balik cepat lewat Breel Embolo dan Xherdan Shaqiri bisa menjadi mimpi buruk bagi lini belakang Argentina yang kerap lengah.
Namun, sejarah menunjukkan Messi punya kecenderungan tampil luar biasa saat timnya terdesak. Pertanyaannya, akankah Swiss mempertahankan konsentrasi selama 90 menit, atau justru kelelahan dan membiarkan 'sihir' Messi bekerja di menit-menit krusial?
Laga ini dijadwalkan kick-off pukul 02.00 WIB dini hari nanti. Argentina diunggulkan, tetapi Swiss bukan lawan yang bisa diremehkan.