JAKARTA — Posisi rupiah di pasar spot pada Rabu (1/7/2026) pukul 09.01 WIB melemah 58 poin atau 0,32 persen dari posisi sebelumnya di Rp 17.907 per dolar AS. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs rupiah pada Selasa (30/6/2026) juga sudah melemah 43 poin ke level Rp 17.899.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh antisipasi pasar terhadap rilis data neraca perdagangan Mei 2026. Sebelumnya, Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan pada April dan anggaran yang melebar.
"Surplus perdagangan yang menyusut dinilai akan memberikan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada tahun ini," ujar Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (1/7/2026).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif sampai April 2026 hanya sebesar US$5,64 miliar. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih berada di atas US$10 miliar.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari data inflasi. Inflasi pada Mei 2026 mendekati batas atas target Bank Indonesia, dipimpin oleh kenaikan harga pangan. Secara nasional, stabilitas harga dan konsumsi masih terkendali.
Namun, pergerakan inflasi di sejumlah daerah menunjukkan alarm. Wilayah Sumatra mencatatkan tekanan harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Ketimpangan inflasi ini dipicu oleh rantai tata niaga pangan domestik yang belum efisien, fluktuasi cuaca setempat, serta pola tanam antar-daerah yang belum terkoordinasi.
Kondisi domestik itu diperparah oleh ancaman eksternal. Kenaikan biaya logistik perkapalan global dan inflasi barang impor turut memengaruhi tekanan harga di dalam negeri. Ibrahim menambahkan, kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing.