DENPASAR — Daya beli masyarakat Bali masih mampu menopang sektor ritel di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kepala KPw BI Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengungkapkan bahwa IPR pada April 2026 tetap berada di atas level optimistis, menandakan aktivitas perdagangan eceran terus tumbuh dibanding bulan sebelumnya.
"Kenaikan penjualan terutama ditopang oleh meningkatnya permintaan suku cadang dan aksesori kendaraan, bahan bakar kendaraan bermotor, serta barang-barang budaya dan rekreasi," ujar Achris, Senin (29/6/2026).
Menurut Achris, peningkatan mobilitas selama libur panjang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung menjadi salah satu faktor utama. Rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Gianyar dan Klungkung juga ikut menggerakkan perputaran uang di daerah.
Permintaan terhadap kebutuhan perjalanan, rekreasi, dan konsumsi sehari-hari ikut melonjak. Dampaknya, pelaku usaha ritel masih menikmati pertumbuhan meski ekonomi global dibayangi berbagai tantangan.
BI memperkirakan tren positif ini berlanjut pada Mei 2026. Lonjakan penjualan diprediksi terjadi menjelang dan selama rangkaian HBKN seperti Hari Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.
Peningkatan diperkirakan terjadi pada kelompok sandang, barang lainnya, serta makanan, minuman, dan tembakau. Hal ini menegaskan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Bali.
Di sisi lain, BI mencermati ekspektasi pelaku usaha terhadap kenaikan harga dalam beberapa bulan mendatang. Meski demikian, inflasi tahunan Bali pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,99 persen, masih dalam sasaran inflasi nasional. Artinya, daya beli masyarakat secara umum relatif terjaga.
Dukungan juga datang dari sektor perbankan. Hingga April 2026, penyaluran kredit untuk lapangan usaha perdagangan masih mencatat pertumbuhan tahunan. Hal ini menunjukkan sektor usaha tetap memiliki akses pembiayaan yang memadai.
Achris menambahkan, keyakinan pelaku usaha terhadap prospek perdagangan ke depan juga terjaga. Indeks Ekspektasi Penjualan untuk tiga hingga enam bulan mendatang masih berada di zona optimistis. Artinya, pelaku usaha percaya permintaan masyarakat akan tetap tumbuh pada paruh kedua tahun ini.
Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,50 persen. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali akan memperkuat strategi 4K: menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi yang efektif. Langkah ini diarahkan untuk melindungi daya beli masyarakat dan memastikan pertumbuhan ekonomi Bali berkelanjutan.