BALI — Di tengah persoalan sampah plastik yang tak kunjung usai dan harga BBM yang terus melambung, Yayasan Get Plastic Indonesia menghadirkan solusi konkret melalui teknologi pirolisis. Mesin ini mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar cair yang siap digunakan, dengan rasio output yang disebut-sebut hampir setara dengan input material.
Teknologi pirolisis bekerja dengan memanaskan sampah plastik dalam suhu tinggi tanpa oksigen. Proses ini memecah rantai polimer plastik menjadi molekul hidrokarbon yang menyerupai bahan bakar minyak. Yayasan Get Plastic Indonesia mengklaim bahwa setiap 10 kilogram sampah plastik dapat menghasilkan hingga 10 liter BBM.
Hasil olahan ini diklaim bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk mesin diesel atau generator. Inovasi ini menjadi angin segar bagi daerah-daerah wisata seperti Bali yang menghadapi darurat sampah plastik setiap musim liburan tiba.
Proses pirolisis dimulai dengan pemilahan sampah plastik. Hanya jenis plastik tertentu, seperti polietilen (PE) dan polipropilen (PP) yang biasa ditemukan pada kemasan makanan dan botol, yang bisa diolah. Sampah yang sudah bersih dimasukkan ke dalam reaktor kedap udara dan dipanaskan pada suhu 300–400 derajat Celsius.
Uap yang dihasilkan kemudian dialirkan ke kondensor untuk didinginkan. Hasil kondensasi inilah yang berubah menjadi cairan BBM. Proses ini memakan waktu beberapa jam tergantung volume sampah, dan tidak menghasilkan asap berbahaya karena dilakukan dalam sistem tertutup.
Yayasan Get Plastic Indonesia menilai teknologi ini bisa menjadi solusi ganda: mengurangi volume sampah plastik yang berakhir di TPA atau laut, sekaligus menyediakan bahan bakar murah bagi masyarakat. Di Bali, di mana produksi sampah plastik mencapai ribuan ton per bulan, kehadiran mesin pirolisis dinilai sangat relevan.
Meski demikian, teknologi ini masih dalam tahap uji coba. Yayasan belum merinci kapan teknologi ini akan diproduksi massal atau didistribusikan ke desa-desa di Bali. Yang jelas, inovasi ini membuka jalan baru bagi pengelolaan sampah yang lebih produktif.
Yayasan Get Plastic Indonesia berencana menggelar demonstrasi publik dan pelatihan bagi komunitas pengelola sampah di Bali. Jika hasil uji coba konsisten, bukan tidak mungkin teknologi pirolisis ini menjadi salah satu andalan dalam mengatasi krisis sampah plastik di Indonesia.
Langkah ini juga sejalan dengan program pemerintah daerah yang tengah mendorong ekonomi sirkular dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Dengan inovasi seperti ini, sampah yang tadinya menjadi masalah bisa berubah menjadi sumber daya yang bernilai.