BALI — Peresmian identitas baru ini diumumkan perusahaan pada Kamis, 18 Juni 2026. Prime Agri Resources hadir menggantikan nama lama SGRO yang telah digunakan sejak perusahaan melantai di bursa efek pada 2007. Langkah ini, menurut keterangan resmi manajemen, merupakan bagian dari transformasi bisnis jangka panjang yang sudah dirintis sejak pendirian perusahaan pada 1993 dengan nama PT Selapan Jaya.
Sejak melakukan penawaran umum perdana (IPO) 18 tahun lalu, luas kebun inti perseroan meningkat lebih dari dua kali lipat. Hingga tahun 2025, Prime Agri Resources mengelola lebih dari 78.000 hektare perkebunan yang tersebar di Sumatra dan Kalimantan.
Untuk menopang produksi, perusahaan mengoperasikan delapan pabrik kelapa sawit dengan total kapasitas pengolahan mencapai 510 ton tandan buah segar (TBS) per jam. Sebanyak lima pabrik berada di Sumatra dan tiga pabrik sisanya di Kalimantan. Seluruh operasi ini, menurut perusahaan, dijalankan berdasarkan empat pilar utama: People, Planet, Product, dan Profit.
Prime Agri Resources tidak hanya mengandalkan perkebunan konvensional. Sejak 1994, perusahaan mengoperasikan divisi riset agronomi internal melalui anak usahanya, PT Binasawit Makmur, yang berlokasi di Palembang. Fasilitas ini memanfaatkan teknologi kultur jaringan dan bioteknologi untuk mengembangkan enam varietas benih unggul berproduktivitas tinggi yang dikenal dengan merek DxP Sriwijaya.
Hak kekayaan intelektual atas varietas benih tersebut telah memperoleh perlindungan hukum dan sertifikasi dari Kementerian Pertanian sejak 2008. Inovasi dari tahap genetika tanaman ini menjadi modal awal perusahaan untuk mendistribusikan benih unggul ke berbagai wilayah perkebunan di Indonesia.
Perseroan telah mengantongi sejumlah sertifikasi keberlanjutan bergengsi, antara lain RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), ISCC (International Sustainability & Carbon Certification), dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil).
Manajemen menegaskan bahwa sertifikasi tersebut tidak berhenti di tingkat korporasi. Penerapannya secara bertahap diperluas hingga ke tingkat petani mitra. Langkah ini bertujuan mendorong standarisasi praktik pertanian berkelanjutan di seluruh rantai pasok perusahaan, dari kebun hingga pabrik pengolahan.