BALI — Anthony Leong bukan nama baru di panggung politik dan bisnis Indonesia. Sebelum masuk jajaran komisaris Telkom, ia tercatat sebagai koordinator nasional relawan PRIDE pada 2023 dan anggota TKN Prabowo-Gibran pada Pemilu 2024. Kini, ia dipercaya mengawasi salah satu BUMN telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara.
Dalam RUPST yang sama, Telkom juga mengangkat Edwin Hidayat Abdullah sebagai komisaris. Susunan dewan komisaris dan direksi yang baru ini langsung efektif setelah mendapat persetujuan pemegang saham.
Anthony memiliki portofolio bisnis yang cukup beragam. Ia pernah menjabat sebagai komisaris PT PLN Indonesia Power, anak usaha PLN yang mengelola pembangkit listrik. Selain itu, ia juga menjadi CEO Menara Digital, co-founder Menara Office, presiden direktur Menara Karya Indonesia, dan komisaris Menara Karya Konstruksi.
Pria yang meraih gelar doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran itu juga aktif di organisasi pengusaha. Ia menjabat sebagai ketua bidang BUMN, Danantara, dan BUMD di Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi), serta ketua bidang kelembagaan Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Aspebindo). Di luar itu, Anthony juga menjadi wakil sekretaris jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) dan pengurus Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI).
Selain Anthony, susunan dewan komisaris Telkom hasil RUPST 2025 adalah sebagai berikut:
Sementara itu, jajaran direksi masih dipimpin oleh Dian Siswarini sebagai Direktur Utama. Beberapa nama baru seperti Veranita Yosephine (Direktur Enterprise & Business Service) dan Arthur Angelo Syailendra (Direktur Keuangan & Manajemen Risiko) turut mengisi posisi strategis perseroan.
Perombakan jajaran komisaris dan direksi biasanya menjadi sinyal arah strategi perusahaan ke depan. Dengan masuknya figur seperti Anthony Leong yang memiliki jejaring di pemerintahan dan dunia usaha, publik akan mencermati apakah Telkom akan lebih agresif dalam ekspansi bisnis digital dan infrastruktur telekomunikasi. Apalagi, perseroan saat ini tengah menghadapi tekanan dari persaingan ketat di sektor data center dan 5G.
Keputusan RUPST ini juga menegaskan bahwa Telkom tetap menjadi salah satu BUMN yang paling dinamis dalam hal tata kelola, dengan perpaduan antara profesional murni dan tokoh yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan.