BULELENG — Nasib cemara pandak di Pulau Dewata berada di ujung tanduk. Spesies yang sudah di ambang punah ini kini hanya menyisakan kurang dari lima pohon dewasa yang masih hidup di kawasan konservasi Danau Tamblingan, Buleleng. Angka itu menjadikan cemara pandak sebagai salah satu jenis flora paling kritis di Bali yang memerlukan intervensi penanganan segera.
Penurunan drastis populasi cemara pandak dipicu oleh alih fungsi lahan di sekitar kawasan penyangga danau. Ekspansi perkebunan warga dan pembangunan infrastruktur wisata di zona penyangga secara perlahan menggerus habitat asli pepohonan ini. Selain itu, regenerasi alami cemara pandak sangat lambat karena bijinya sulit berkecambah di alam liar tanpa perlakuan khusus.
Kondisi itu diperparah dengan musim kemarau panjang yang melanda Bali beberapa tahun terakhir. Tanah di sekitar Danau Tamblingan menjadi lebih kering, membuat bibit alam yang tumbuh tidak mampu bertahan hingga dewasa. Akibatnya, tidak ada generasi baru yang menggantikan pohon-pohon tua yang mulai mati satu per satu.
BRIN melalui unit Kebun Raya Kebal mengambil peran sebagai garda terdepan dalam misi penyelamatan ini. Tim peneliti langsung mengumpulkan materi genetik dari pohon-pohon yang tersisa untuk diperbanyak secara vegetatif. Mereka mulai melakukan upaya perbanyakan populasi massal melalui pembibitan intensif di fasilitas Kebun Raya Kebal.
Teknik stek dan kultur jaringan diterapkan untuk mempercepat produksi bibit dalam jumlah besar. Dalam waktu dekat, ribuan bibit hasil pembibitan itu akan ditanam kembali di sepanjang kawasan konservasi Danau Tamblingan. "Kami meluncurkan gerakan penanaman pohon di sepanjang kawasan konservasi Danau Tamblingan," ujar perwakilan tim peneliti BRIN di lapangan.
Gerakan ini tidak hanya mengandalkan tangan peneliti. BRIN menggandeng komunitas pecinta lingkungan dan warga desa penyangga untuk ikut memantau pertumbuhan bibit yang ditanam. Setiap bibit yang ditanam akan diberi tanda koordinat dan dipantau secara berkala melalui sistem database digital.
Kunci keberhasilan ada pada konsistensi perawatan dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Jika bibit-bibit itu mampu bertahan hingga fase dewasa, populasi cemara pandak di Bali berpotensi pulih secara perlahan. Namun jika gagal, spesies ini benar-benar akan punah dari habitat aslinya di Pulau Dewata.