MANGUPURA — GOW Badung melihat persoalan sampah rumah tangga sebagai tantangan yang harus dijawab dari unit terkecil: dapur. Alih-alih menunggu infrastruktur pengolahan sampah berskala besar, mereka memilih pendekatan yang lebih langsung dan partisipatif.
Alat yang diperkenalkan bernama bag komposter. Kantong khusus ini memungkinkan sisa sayuran, kulit buah, atau ampas makanan diolah di pekarangan rumah tanpa menimbulkan bau menyengat. Hasilnya, pupuk organik padat dan cair yang siap pakai untuk tanaman.
GOW Badung menggandeng Wanita Islam setempat sebagai ujung tombak sosialisasi. Para ibu diajak tidak hanya memahami cara memilah sampah, tetapi juga mengolahnya hingga menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Program ini menyasar kebiasaan harian yang paling mendasar. Selama ini, sampah organik dari dapur menyumbang volume terbesar ke TPA regional. Dengan bag komposter, setiap rumah tangga bisa memotong rantai itu sejak dari sumbernya.
Pupuk organik yang dihasilkan punya nilai tambah. Selain untuk kebutuhan sendiri, warga bisa memanfaatkannya untuk tanaman hias, sayur organik di pekarangan, atau bahkan dijual ke komunitas tani urban di sekitar Badung.
GOW Badung memilih organisasi wanita Islam sebagai mitra awal karena jaringannya yang sudah mapan hingga ke tingkat banjar. Strategi ini dianggap lebih efektif ketimbang sosialisasi massal yang kerap tidak menyentuh praktik harian.
Para kader nantinya akan menjadi percontohan di lingkungan masing-masing. Mereka tidak hanya mengolah sampah sendiri, tetapi juga mengajari tetangga dan keluarga cara memilah serta menggunakan bag komposter dengan benar.
Warga yang mengikuti program ini tidak perlu lagi membeli pupuk kimia untuk tanaman di rumah. Dalam skala lebih luas, volume sampah yang diangkut ke TPA bisa berkurang drastis jika pola ini diterapkan secara massal di Badung.
GOW Badung menargetkan program ini terus diperluas ke kelompok perempuan lainnya. Langkah ini sejalan dengan visi Kabupaten Badung yang ingin mengurangi ketergantungan pada TPA dan mendorong ekonomi sirkular dari level rumah tangga.