KARANGASEM — Permukaan air Danau Yeh Malet yang tenang, diapit perbukitan hijau setengah lingkaran, menyembunyikan sejarah geologi yang jauh lebih tua dari peradaban Hindu di Bali. Formasi batuan di kawasan ini, menurut peta geologi regional Purbo-Hadiwidjojo (1971), adalah bagian dari Formasi Ulakan yang berumur Miosen Awal—sekitar 30 hingga 15 juta tahun lalu.
Saat itu, Pulau Bali belum berbentuk seperti sekarang. Aktivitas gunungapi bawah laut menjadi cikal bakal daratan, dan salah satunya melahirkan Yeh Malet melalui mekanisme yang berbeda dari letusan biasa.
Danau Yeh Malet bukan kawah sembarang. Para ahli geologi mengidentifikasinya sebagai kawah maar—hasil letusan freatomagmatik. Proses ini dimulai ketika magma bersuhu lebih dari 1.000 derajat Celcius naik ke permukaan dan bertemu dengan air tanah di dalam batuan jenuh.
Pertemuan itu memicu reaksi berantai dalam hitungan detik. Air berubah menjadi uap secara seketika, menghasilkan ledakan termal yang disebut Molten Fuel-Coolant Interaction (MFCI). Ledakannya jauh lebih dahsyat dibandingkan dinamit konvensional, melubangi bumi dan membentuk cekungan dalam.
Menurut White dan Ross (2011) dalam jurnal Maar-diatreme volcanoes: A review, ciri khas kawah maar adalah lantainya yang berada di bawah permukaan tanah pra-erupsi. Material yang terlempar keluar membentuk tanggul melingkar—disebut tuff ring atau tephra ring—yang kini tampak sebagai perbukitan setengah lingkar di sisi utara, barat, dan selatan danau.
Pasca-erupsi, kawah maar Yeh Malet mengalami evolusi hidrologis panjang. Lorenz (2003) dalam studinya menjelaskan bahwa posisi kawah yang berada di bawah permukaan tanah membuatnya langsung terhubung dengan sistem air tanah di sekitarnya. Air tanah secara alami meresap dan mengisi kawah, membentuk danau tanpa bergantung sepenuhnya pada air hujan.
Saat ini, luas permukaan danau bervariasi antara 5 hingga 8 hektar tergantung musim. Namun, ancaman datang dari sedimentasi dan pertumbuhan gulma yang terus menyebabkan pendangkalan. Perbukitan setengah lingkaran yang menjadi saksi bisu letusan purba itu masih terbaca jelas hingga kini, meski jutaan tahun telah berlalu.
Bagi warga setempat, Yeh Malet berarti "air yang manis"—sebuah danau kecil di pesisir timur Bali yang tak hanya menyimpan air, tetapi juga catatan geologi tentang bagaimana bumi di Nusantara ini terbentuk.