BALI — Apple MacBook Pro dengan layar PROLED XDR resmi mengandalkan chip M5 Pro dan M5 Max yang sama seperti versi mini-LED, jadi performa mentahnya bisa diprediksi tanpa perlu menunggu unit retail. Harga mulai USD 2.899 untuk 14 inci versi M5 Pro, atau USD 400 lebih mahal di seluruh lini dibanding model mini-LED yang sudah beredar sejak Maret 2026. Selisih itu murni dibayar untuk panel tandem OLED, layar sentuh, dan hilangnya notch—bukan tambahan tenaga.
Tom's Guide sudah menjalankan hands-on singkat pada MacBook Pro PROLED XDR, dan hasil pengujian chip di model mini-LED jadi acuan utama karena keduanya memakai silikon identik. Ada dua variabel yang bisa menggeser hasil: bobot bodi jauh lebih ringan dan panel OLED yang konsumsi dayanya berbeda dari mini-LED. Apple menyebut sistem termal didesain ulang total, klaim yang perlu dibuktikan lewat uji beban panjang.
Varian 14 inci PROLED XDR dibanderol mulai USD 2.899 (M5 Pro), sementara 16 inci mulai USD 3.399. Versi M5 Max melompat ke USD 4.499 untuk 14 inci dan USD 4.799 untuk 16 inci. Konfigurasi tertinggi 16 inci menyentuh USD 14.549—angka yang setara puluhan juta rupiah lebih tinggi dari model mini-LED setara.
Data Geekbench 6 dari model mini-LED menunjukkan skor single-core nyaris identik di seluruh keluarga M5. MacBook Pro 16 inci M5 Pro mencatat 4.306, M5 Max 4.338, dan M5 dasar 4.288. Artinya, tugas harian seperti browsing dan editing ringan tidak akan terasa lebih responsif dibanding M5 biasa.
Selisih sesungguhnya ada di multi-core. M5 Pro menyentuh 28.586 dan M5 Max 29.430, sekitar 25% di atas M4 Pro yang mencatat 22.822—sejalan dengan klaim Apple saat peluncuran chip pada Maret 2026. Uji Handbrake (transcode 4K ke 1080p) mencatat 1 menit 45 detik untuk M5 Pro, jauh lebih cepat dari 2 menit 38 detik milik M4 Pro.
Menariknya, M6 di Mac mini dan MacBook Pro 14 inci memuncaki single-core (4.708) tapi tertinggal jauh di multi-core. Apple memilih melewati M6 Pro dan M6 Max untuk generasi ini, klaim yang diperkuat laporan Mark Gurman bahwa kedua chip tersebut tidak sedang dikembangkan.
Di 3DMark Solar Bay, M5 Max mencatat 268 fps berbanding 178 fps milik M5 Pro—selisih yang masuk akal karena jumlah core GPU-nya bisa dua kali lipat. Wild Life Extreme mencatat 231 fps versus 142 fps. Kedua chip mengalahkan semua laptop Windows di tabel pengujian pertama.
Namun Nvidia RTX Spark di Microsoft Surface Laptop Ultra mengubah peta. Di Steel Nomad, RTX Spark mencatat 2.912 berbanding 2.335 milik M5 Pro, dan di Solar Bay Extreme 10.594 versus 9.108. Untuk M5 Max, skornya 3.865 dan 13.945—di atas RTX Spark, tapi jaraknya tidak lagi selebar generasi sebelumnya.
Di ranah AI, hasilnya lebih berimbang. M5 Pro mencatat 57.420 di Geekbench AI, nyaris sama dengan M5 dasar (57.242), sementara Snapdragon X2 Elite Extreme memimpin dengan 88.615.
Model mini-LED 16 inci M5 Pro bertahan 21 jam 25 menit dalam uji browsing web pada kecerahan 150 nits. M5 Max yang lebih haus daya bertahan sedikit di bawah 18 jam. Apple mengklaim model PROLED XDR tetap sanggup 24 jam meski bodinya lebih ringan.
Klaim itu masuk akal di atas kertas, tapi panel OLED mengonsumsi daya lebih sedikit saat menampilkan konten gelap dan lebih boros di layar putih terang. Uji baterai independen pada unit retail tetap diperlukan sebelum angka 24 jam bisa dianggap final.
MacBook Pro PROLED XDR adalah pembaruan panel, bukan pembaruan performa. Pembeli yang butuh tenaga M5 Pro atau M5 Max sebaiknya tetap melirik model mini-LED yang harganya USD 400 lebih murah di konfigurasi setara. Yang membuat model baru ini masuk akal adalah tandem OLED 120Hz dengan klaim 2.000 nits, layar sentuh, dan hilangnya notch—tiga hal yang tidak bisa didapat di versi lama.
Cocok untuk editor video dan fotografer yang bekerja di kondisi cahaya sulit dan butuh akurasi warna panel OLED. Kurang cocok untuk pengguna yang membeli MacBook Pro semata-mata untuk render atau kompilasi kode, karena chip yang sama tersedia lebih murah di model mini-LED.