DFSK E5 Plus vs Wuling Eksion PHEV: Baterai Lebih Besar, Harga Lebih Mahal

Penulis: Ivan Setiawan  •  Senin, 26 Oktober 2026 | 11:53:01 WIB
DFSK E5 Plus dan Wuling Eksion PHEV bersaing di segmen SUV PHEV tujuh penumpang dengan selisih harga mulai Rp 40 juta.

BALI — Dua SUV PHEV tujuh penumpang ini sama-sama menawarkan mesin bensin plus motor listrik, tapi DFSK E5 Plus unggul di kapasitas baterai 25 kWh sementara Wuling Eksion PHEV menang di harga awal yang Rp 40 juta lebih murah. Selisih Rp 499 juta versus Rp 459 juta hingga Rp 509 juta OTR Jakarta membuat keduanya bersaing ketat di segmen yang sama. Namun angka klaim jarak tempuh kedua pabrikan memakai standar pengujian berbeda, sehingga belum bisa dibandingkan langsung.

Perbandingan ini disusun dari data spesifikasi resmi kedua pabrikan yang tersedia untuk pasar Indonesia. Pembaca yang sedang mempertimbangkan SUV keluarga PHEV perlu tahu bahwa sejumlah angka di bawah masih berupa klaim pabrikan, bukan hasil pengujian independen. Beberapa aspek penting seperti kenyamanan baris ketiga dan kapasitas bagasi saat tujuh kursi terpakai justru belum punya data pembanding setara.

Harga: Eksion PHEV Mulai Lebih Murah, Tapi Varian Tertingginya Lebih Mahal

DFSK E5 Plus dibanderol Rp 499 juta OTR Jakarta dan hanya tersedia dalam satu varian. Wuling Eksion PHEV dipasarkan mulai Rp 459 juta hingga Rp 509 juta OTR Jakarta.

Artinya, harga masuk Eksion PHEV Rp 40 juta lebih rendah. Tapi kalau melihat varian teratasnya, Eksion PHEV justru Rp 10 juta lebih mahal daripada E5 Plus. Pembeli yang mempertimbangkan versi termewah perlu menghitung ulang anggaran.

Mesin dan Motor Listrik: Eksion PHEV Unggul di Angka Tenaga

DFSK E5 Plus memakai mesin 1.5L empat silinder naturally aspirated dengan tenaga 68 kW (92 PS) dan torsi 130 Nm, dipadukan sistem Smart Power System DE-i. Wuling Eksion PHEV memakai mesin bensin 1.500 cc NA bertenaga 105 tk dan torsi 130 Nm.

Selisih paling mencolok ada di motor listrik. Eksion PHEV menghasilkan 195 tk dan torsi 230 Nm dari motor listriknya, disalurkan lewat transmisi Dedicated Hybrid Transmission (DHT). Mesin bensinnya disebut serupa dengan yang dipakai Wuling Darion.

Data tenaga di atas terlihat timpang, tapi perbandingan akselerasi sesungguhnya tetap butuh uji berkendara langsung. Angka di atas kertas tidak selalu mencerminkan respons gas di jalan.

Baterai dan Jarak Tempuh: E5 Plus Unggul, Tapi Standar Ujinya Beda

DFSK E5 Plus membawa baterai 25 kWh dengan klaim jarak tempuh listrik murni 140 km berdasarkan standar NEDC. Jarak tempuh kombinasi dengan baterai dan tangki penuh diklaim mencapai 1.400 km.

Wuling Eksion PHEV memakai baterai 20,5 kWh, klaim jarak tempuh listrik murni 125 km berdasarkan standar CLTC, dan jarak tempuh kombinasi 1.000 km dengan tangki penuh. Kapasitas baterai E5 Plus memang lebih besar 4,5 kWh.

Catatan penting: NEDC dan CLTC adalah standar pengujian berbeda, sehingga angka 140 km dan 125 km tidak bisa dibandingkan apalagi disimpulkan salah satu lebih unggul. Hasil penggunaan nyata di jalan Indonesia juga bisa jauh dari klaim pabrikan.

Konsumsi BBM: Belum Bisa Ditentukan Pemenangnya

DFSK mengklaim E5 Plus mampu mencatat konsumsi BBM rata-rata 83,3 kpl. Angka itu terdengar fantastis, tapi efisiensi aktual sangat bergantung pada kondisi jalan, gaya berkendara, penggunaan AC, dan seberapa sering baterai diisi daya.

Untuk Wuling Eksion PHEV, data konsumsi BBM belum tersedia dalam informasi perbandingan ini. Efisiensi hariannya bergantung pada kondisi baterai, jarak perjalanan, dan frekuensi pengisian daya.

Karena tidak ada angka pengujian dengan metode setara, siapa yang lebih hemat BBM belum bisa ditentukan. Klaim 83,3 kpl sebaiknya tidak dijadikan patokan tunggal sebelum ada uji independen.

Fitur yang Menjadi Pembeda

  • DFSK E5 Plus: Vehicle to Load (V2L) memungkinkan mobil menyuplai listrik ke perangkat elektronik kompatibel, misalnya saat berkemah. Baterai 25 kWh jadi nilai tambah untuk kebutuhan daya di luar ruang.
  • Wuling Eksion PHEV: motor listrik 195 tk menjadi daya tarik utama dari sisi spesifikasi performa. Transmisi DHT dipakai untuk menyalurkan tenaga sistem penggerak hybrid.

Fitur V2L praktis untuk pengguna yang sering beraktivitas di luar ruang atau butuh cadangan listrik. Sementara motor listrik bertenaga besar di Eksion PHEV lebih relevan bagi pembeli yang mementingkan respons performa.

Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memilih

Data kenyamanan baris ketiga, kapasitas bagasi saat tujuh kursi dipakai, dan kelengkapan fitur keselamatan belum tersedia setara untuk kedua model. Padahal tiga aspek itu krusial untuk SUV keluarga tujuh penumpang.

Klaim jarak tempuh listrik murni E5 Plus (140 km NEDC) dan Eksion PHEV (125 km CLTC) memakai standar berbeda, jadi jangan langsung menyimpulkan E5 Plus lebih unggul. Konsumsi BBM Eksion PHEV juga belum ada angkanya, sehingga klaim 83,3 kpl E5 Plus belum punya pembanding setara.

Kesimpulan: Tergantung Prioritas Anda

DFSK E5 Plus menang di kapasitas baterai 25 kWh, klaim jarak tempuh listrik murni 140 km, jarak kombinasi 1.400 km, dan fitur V2L, dengan harga Rp 499 juta OTR Jakarta. Wuling Eksion PHEV menang di harga awal Rp 459 juta, motor listrik 195 tk dengan torsi 230 Nm, dan klaim jarak tempuh listrik murni 125 km berdasarkan CLTC.

Pilih E5 Plus kalau prioritas Anda baterai besar, jarak tempuh listrik panjang, dan fitur V2L. Pilih Eksion PHEV kalau anggaran awal lebih ketat dan Anda menginginkan spesifikasi motor listrik lebih bertenaga. Uji berkendara langsung tetap wajib sebelum memutuskan, karena beberapa aspek kunci keluarga belum punya data pembanding setara.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: moladin.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top