DENPASAR — Rangkaian karya agung di Jero Abian Timbul telah dimulai sejak 18 Oktober 2026 melalui ritual matur piuning, nanceb pampang, dan nuasen karya. Puncaknya berlangsung Sabtu (24/10/2026) dengan metatah atau mepandes massal yang melibatkan Wali Kota Denpasar sebagai sangging.
Jaya Negara menyebut metatah sebagai bagian vital dalam siklus Manusa Yadnya bagi umat Hindu. Tradisi ini menandai fase penting menyambut kedewasaan seseorang, sekaligus simbol pembersihan dan pengendalian diri dari Sad Ripu, enam musuh dalam diri manusia.
Menurut Jaya Negara, pelaksanaan metatah merupakan wujud nyata implementasi visi Vasudhaiva Kutumbakam, semangat gotong royong dalam berbakti kepada Sang Pencipta. Ia berharap upacara ini mempererat hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam lingkungan.
"Pelaksanaan metatah ini merupakan salah satu bentuk nyata dari implementasi visi Vasudhaiva Kutumbakam, yakni semangat gotong royong dalam mewujudkan bhakti kepada Sang Pencipta. Melalui pelaksanaan upacara ini, kita berharap tercipta hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan (Tri Hita Karana), sehingga kehidupan bermasyarakat dapat berjalan selaras dan harmonis," papar Jaya Negara.
Ketua Panitia Karya I Gusti Ketut Wijaya menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemkot Denpasar dan kesediaan Jaya Negara meluangkan waktu ngayah sebagai sangging. Menurutnya, kehadiran orang nomor satu di Denpasar itu membawa dampak langsung bagi krama yang mengikuti prosesi.
"Kami sangat berterima kasih atas dukungan Pemkot Denpasar, khususnya kehadiran Bapak Wali Kota yang berkenan ngayah sebagai sangging dalam prosesi metatah. Kehadiran beliau memberikan kebahagiaan serta motivasi spiritual bagi krama kami," ungkap Gusti Ketut Wijaya.
Seluruh tahapan karya suci di Jero Abian Timbul berlanjut ke puncak upacara Wraspati Kalpa, Nyurud Ayu, dan Mejaya-jaya pada Minggu (25/10/2026). Panitia berharap seluruh rangkaian berjalan lancar atau mangguh hayu.
Lebih dari sekadar ritual, rangkaian karya ini diharapkan memperkuat rasa kebersamaan, persaudaraan, dan nilai keagamaan krama Denpasar. Pelaksanaan metatah massal sendiri menjadi penanda bahwa tradisi Manusa Yadnya tetap hidup di tengah masyarakat kota.