Bali Terima Hibah 11 Bus Listrik dan 6 Charging Station dari Korea, Koster Sebut Perkuat Transisi Energi

Penulis: Eri Subagio  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 14:16:31 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster menerima hibah 11 bus listrik dan 6 unit charging station dari Pemerintah Republik Korea melalui proyek Bali E-Mobility.

DENPASAR — Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Republik Korea atas dukungan nyata dalam mendorong transportasi berbasis energi bersih. Penunjukan Bali sebagai penerima manfaat proyek disebut tidak lepas dari peran Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy.

Proyek Bali E-Mobility melibatkan tiga pihak: Pemerintah Indonesia, Pemerintah Republik Korea, dan Global Green Growth Institute (GGGI). Hibah yang diterima Pemprov Bali mencakup 11 unit bus listrik serta enam unit infrastruktur pengisian daya.

Bus Listrik Penuhi TKDN, Bodi Diproduksi di Indonesia

Koster menjelaskan, bus listrik yang diterima melalui proyek tersebut telah memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Bodi bus diproduksi di dalam negeri.

Menurut Koster, ketentuan itu sekaligus mendukung industri dalam negeri. Penggunaan bus listrik diharapkan memperkuat transformasi sektor transportasi menuju sistem yang lebih ramah lingkungan.

"Kolaborasi ini menjadi kesempatan bagi Bali untuk mempercepat pemanfaatan kendaraan listrik sekaligus memperkuat pembangunan yang memperhatikan kelestarian lingkungan," kata Koster dalam sambutannya.

Transisi Energi Bali Tak Berhenti di Kendaraan Listrik

Koster menegaskan, upaya transisi energi di Bali tidak hanya dilakukan melalui penggunaan kendaraan listrik. Pemprov Bali juga mengembangkan energi baru terbarukan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Langkah tersebut sejalan dengan visi pembangunan Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang dijalankan Pemprov Bali. Rachmat menilai visi itu perlu didukung upaya pengurangan pencemaran dari berbagai sektor, termasuk pembangkit listrik dan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil.

Tri Hita Karana Jadi Rujukan Kebijakan Energi Bersih

Rachmat menyoroti kearifan lokal Bali, khususnya filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Menurutnya, filosofi tersebut relevan dengan upaya menjaga lingkungan dan mendorong transisi energi.

"Saya sejak muda saya sudah kagum dengan kearifan lokal Tri Hita Karana di Bali, yaitu bagaimana masyarakat membina hubungan yang baik dan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dan manusia, serta manusia dengan alam. Bagaimana masyarakat Bali bisa memberikan kita contoh bagaimana memuliakan alam dengan konsep Tri Hita Karana," ungkap Rachmat.

Menteri PPN/Kepala Bappenas itu berharap Bali menjadi model pembangunan berkelanjutan, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia. Perpaduan kebijakan energi bersih, transportasi ramah lingkungan, dan pelestarian nilai budaya dinilai dapat menjadi contoh.

Pembelajaran untuk Daerah Lain

Proyek Bali E-Mobility diharapkan tidak berhenti pada penyediaan fasilitas transportasi listrik. Pengalaman Bali mengembangkan transportasi ramah lingkungan disebut dapat menjadi pembelajaran bagi penyusunan kebijakan serupa di tingkat nasional.

Rachmat menilai kolaborasi internasional menjadi kunci percepatan transisi energi. Pengalaman Bali akan dipelajari untuk memperluas penerapan energi bersih dan pembangunan berkelanjutan di berbagai daerah.

Reporter: Eri Subagio
Sumber: diksimerdeka.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top