DENPASAR — Korsleting listrik kerap bermula dari persoalan kecil di rumah, tetapi dampaknya bisa merusak peralatan hingga memicu kebakaran. PLN UP2D Bali menyampaikan hal itu dalam kegiatan edukasi keselamatan kelistrikan bersama RPKD FM, dengan menekankan pentingnya mengenali tanda gangguan sejak dini.
Team Leader K3L dan Keamanan PLN UP2D Bali Ari Hidayanto menyebut keselamatan listrik dapat dimulai dari memastikan instalasi sesuai standar dan kebutuhan daya. Warga juga diminta tidak menumpuk terlalu banyak peralatan pada satu stopkontak.
PLN UP2D Bali merinci enam kebiasaan untuk menekan risiko gangguan listrik di rumah tangga:
Pemeriksaan dapat dimulai dari kabel, colokan, dan peralatan listrik yang dipakai sehari-hari. Menurut Ari, kebiasaan sederhana inilah yang paling menentukan.
"Keselamatan listrik sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Pastikan instalasi listrik sesuai standar, hindari menumpuk terlalu banyak peralatan pada satu stopkontak, dan periksa kondisi kabel secara berkala. Jika kabel sudah terkelupas, rusak, atau menunjukkan kondisi tidak normal, segera lakukan penggantian," ujar Ari, Senin 28 September 2026.
Warga diminta waspada jika menemukan kabel terkelupas, sambungan longgar, stopkontak terlalu panas, bau terbakar, perubahan warna pada colokan, suara tidak normal, atau percikan listrik. Tanda-tanda itu disebut sebagai sinyal awal yang tidak boleh diabaikan.
Ari juga menjelaskan perbedaan korsleting dan beban berlebih. Korsleting atau hubung singkat terjadi ketika arus mengalir melalui jalur yang tidak semestinya sehingga dapat menimbulkan arus sangat besar.
Beban berlebih terjadi ketika penggunaan perangkat listrik melampaui kemampuan suatu rangkaian. Karena itu, penggunaan banyak perangkat berdaya tinggi pada satu stopkontak atau sambungan bertumpuk perlu dihindari.
Manager PLN UP2D Bali Petrus Irwan Ichwansaputra menyebut edukasi keselamatan merupakan bagian dari upaya PLN memberikan layanan kelistrikan yang aman dan mudah dipahami masyarakat. Kegiatan bersama RPKD FM disebut sebagai cara mendekatkan informasi keselamatan ke warga Bali.
"Bagi PLN, pelayanan tidak berhenti pada bagaimana menjaga listrik tetap menyala dan andal. Masyarakat juga membutuhkan pengetahuan agar dapat memanfaatkan listrik secara aman. Melalui kolaborasi bersama RPKD FM, kami ingin informasi keselamatan ini semakin dekat dengan masyarakat Bali dan dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Petrus.
Petrus mengimbau masyarakat tidak menunggu gangguan terjadi untuk mulai memperhatikan keselamatan listrik.
"Memeriksa instalasi, menggunakan peralatan sesuai standar, tidak membebani stopkontak secara berlebihan, dan segera menangani kondisi yang tidak normal merupakan langkah sederhana yang dapat membantu melindungi diri, keluarga, dan lingkungan," katanya.