MANGUPURA — Pemerintah Kabupaten Badung memperkuat strategi penanganan stunting dengan menggeser titik utama intervensi ke masa sebelum kehamilan. Pemeriksaan calon pengantin kini diintegrasikan ke dalam program MANTAP Nak Badung, dilanjutkan pengawasan kehamilan lewat program Garba Sari. Pendekatan hulu ini berbeda dari pola lama yang lebih banyak menangani balita setelah teridentifikasi stunting.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung dr. Made Padma Puspita, Sp.PD., M.ARS, menjelaskan bahwa penanganan stunting tidak lagi dimulai saat bayi ditimbang. Intervensi dilakukan sejak janin melalui inovasi Garba Sari pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
"Stunting ini bukan hanya kita tangani setelah ditimbang. Penanganan dilakukan dari awal melalui inovasi Garba Sari sejak janin atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Bahkan sebelum itu, ada program Catin bagi calon pengantin yang terintegrasi dalam program MANTAP Nak Badung," ujar dr. Padma di sela kegiatan Gebyar Nak Badung Sehat di Banjar Tegal Jaya, Desa Dalung, Kuta Utara, Selasa (22/9/2026).
Melalui pendeteksian dini pada calon pengantin dan ibu hamil, risiko melahirkan bayi stunting dapat diantisipasi sedini mungkin. Skema ini menempatkan posyandu dan fasilitas kesehatan dasar sebagai pintu masuk pemeriksaan sebelum pernikahan.
Berdasarkan data survei nasional tahun 2024, prevalensi stunting Kabupaten Badung berada di level 7,2 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan capaian Provinsi Bali yang mencapai 8,7 persen.
Sementara dari hasil penimbangan dan pengukuran bulanan per Agustus 2026, tercatat 17.350 balita telah diukur dari total sasaran 20.367 balita di Kabupaten Badung. Dari jumlah yang diukur, ditemukan 489 balita mengalami stunting atau 2,8 persen per bulan.
Selisih antara angka survei nasional dan hasil penimbangan bulanan menunjukkan perbedaan metode pengukuran. Survei nasional memotret prevalensi pada periode tertentu, sedangkan penimbangan bulanan merekam kasus aktif di posyandu.
Bagi balita yang membutuhkan penanganan, Pemkab Badung bersama pemerintah desa menyalurkan bantuan nutrisi tambahan secara berkala. Penyaluran melibatkan kader posyandu dan aparat desa untuk memastikan sasaran tepat.
Keberhasilan intervensi ini salah satunya dibuktikan Desa Dalung, yang mampu menekan angka kasus hingga sangat minim. Desa tersebut berhasil melaju ke tingkat nasional sebagai desa percontohan penanganan stunting.
Padma optimistis dengan sinergi antara program daerah, peran pemerintah desa, dan kesadaran masyarakat, Kabupaten Badung mampu mempertahankan capaian positif dalam mencetak generasi masa depan yang sehat dan berkualitas.
Strategi hulu ini menempatkan Badung pada posisi berbeda dari daerah yang masih fokus pada penanganan kasus setelah bayi lahir. Pemeriksaan calon pengantin menjadi titik kendali pertama yang menentukan apakah risiko stunting bisa ditekan sebelum kehamilan berjalan.