Podcast Axioo Soal Harga Naik & Isu ODM: Penjelasan Langsung dari VP-nya

Penulis: Ivan Setiawan  •  Senin, 07 September 2026 | 15:08:01 WIB
Wakil Presiden Axioo, Timmy Theopelus, menjelaskan kenaikan harga laptop akibat lonjakan harga komponen global dalam podcast Jagat Review di Bali.

BALI — Harga komponen yang meroket sepanjang tahun ini jadi ujian berat bagi semua produsen laptop, termasuk Axioo. Tapi di tengah situasi itu, yang ramai di media sosial justru tuduhan bahwa Axioo memakai "ODM sampah" dan harganya kian tidak masuk akal untuk produk rakitan lokal. Dalam podcast Jagat Review, Timmy Theopelus buka suara soal isu tersebut — dan jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan.

Kenaikan Harga Bukan Karena Pabrikan Serakah

Timmy menegaskan bahwa kenaikan harga laptop Axioo belakangan ini bukan murni keputusan sepihak perusahaan. RAM dan SSD adalah dua komponen dengan porsi biaya paling signifikan dalam satu unit laptop, dan keduanya sedang mengalami lonjakan harga global akibat masalah pasokan.

"Ini bukan kondisi khusus Axioo, tapi terjadi secara global," ujar Timmy dalam podcast tersebut. Artinya, hampir semua merek laptop — baik global maupun lokal — merasakan tekanan yang sama. Yang membedakan adalah bagaimana masing-masing brand merespons.

Strategi Axioo: Bukan Sekadar Naikkan Harga

Menariknya, Axioo tidak serta-merta menaikkan harga lalu berpangku tangan. Timmy menjelaskan bahwa perusahaan justru melihat ulang seluruh konfigurasi produk — apakah performa masih masuk akal di kelasnya, kapasitas RAM dan storage masih cukup, apakah masih bisa di-upgrade pengguna, dan apakah harga finalnya masih kompetitif.

Ini penting dicatat: di tengah tekanan biaya, Axioo memilih menjaga nilai jual dengan menakar ulang komposisi komponen ketimbang sekadar meneruskan beban biaya ke konsumen secara mentah-mentah.

Menjawab Tuduhan "ODM Sampah" dan Harga Mahal

Soal anggapan bahwa Axioo memakai ODM kelas bawah, Timmy tidak menghindar. Ia justru menantang konsumen untuk tidak berhenti di asumsi — bandingkan langsung dengan laptop lain di rentang harga yang sama. Ukur dari performa, konfigurasi, kemudahan upgrade, sampai layanan purna jual.

"Konsumen tidak punya kewajiban membeli Axioo hanya karena kami brand Indonesia. Kalau setelah dibandingkan Axioo lebih masuk akal, baru perusahaan dinilai layak dipilih," tegasnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi pengakuan jujur: di pasar yang kompetitif, label "produk lokal" saja tidak cukup. Axioo sadar bahwa pembeli dengan budget puluhan juta rupiah punya banyak opsi, dan sentimen kebangsaan tidak akan menyelamatkan produk yang kalah bersaing.

Yang Perlu Diperhatikan Konsumen

Dari penjelasan ini, ada beberapa hal yang layak dicermati sebelum memutuskan membeli laptop Axioo di tengah kondisi harga yang sedang tidak bersahabat:

  • Sentimen media sosial memang sedang negatif — dan Axioo mengakuinya sebagai kritik yang fair, bukan serangan tanpa dasar.
  • Kenaikan harga bukan monopoli Axioo — semua produsen terdampak, tapi cara masing-masing mengompensasi nilai berbeda-beda.
  • Klaim "lebih masuk akal" butuh pembuktian — jangan percaya kata pabrikan, lakukan perbandingan langsung dengan kompetitor di kelas harga yang sama.
  • Purna jual bisa jadi pembeda — sebagai brand lokal, layanan servis Axioo di Indonesia berpotensi lebih mudah diakses, tapi ini perlu diverifikasi dari pengalaman pengguna aktual.

Kesimpulan

Penjelasan Timmy dalam podcast ini tidak serta-merta meluruskan semua tuduhan, tapi memberi perspektif yang sering terlewat: keputusan harga laptop itu kompleks dan sangat tergantung kondisi komponen global. Axioo mengaku tantangan terbesarnya bukan sekadar menaikkan harga, tapi memastikan produknya tetap layak dipilih setelah dibandingkan secara jujur.

Bagi calon pembeli, ini justru saat yang tepat untuk tidak buru-buru percaya opini media sosial — baik yang menghujat maupun memuji. Bandingkan spesifikasi, cek garansi dan layanan, lalu putuskan berdasarkan kebutuhan. Video lengkap podcast Jagat Review bersama Axioo bisa disimak di kanal YouTube Jagat Review untuk konteks yang lebih utuh.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: jagatreview.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top