BALI — Samsung resmi menambah anggota baru di keluarga Galaxy Book6, menyasar segmen menengah dengan harga lebih bersahabat. Alih-alih menggunakan Core Ultra 5 atau Core Ultra 7 seperti saudaranya yang lebih premium, varian Galaxy Book6 ini mengusung chip Intel Core 3 atau Core 5 dari keluarga Wildcat Lake dengan grafis terintegrasi Intel Graphics.
Laptop ini juga sudah dibekali NPU dengan kemampuan AI hingga 15 TOPS — terbilang standar untuk kelas menengah di 2026, namun jangan berharap performa AI-nya bisa menyaingi laptop dengan chip kelas atas yang mengusung NPU 40+ TOPS.
Baterai Jadi Daya Tarik Utama, Tapi Angka Ini Tetap Klaim PabrikanSalah satu nilai jual paling mencolok adalah baterai 61,2Wh dengan klaim daya tahan hingga 25 jam untuk pemakaian sekali pengisian. Samsung turut menyertakan charger USB-C 45W yang disebut bisa mengisi sekitar 33 persen kapasitas dalam 30 menit.
Di atas kertas, angka 25 jam mungkin terdengar impresif, tapi perlu diingat bahwa durasi tersebut biasanya diukur dalam kondisi pemutaran video lokal dengan kecerahan rendah. Untuk pemakaian nyata — browsing dengan banyak tab, video call, atau streaming — angka realistisnya kemungkinan besar berada di kisaran 10-14 jam. Sangat mungkin masih awet untuk penggunaan harian, tapi jangan terlalu percaya pada angka klaim tersebut.
Galaxy Book6 mengusung layar 14 inci dengan resolusi 1920 x 1200 piksel (16:10), kecerahan maksimum 350 nits, dan lapisan anti-reflektif untuk mengurangi pantulan cahaya saat digunakan di ruangan terang. Ketebalan bodinya 15,7 mm dengan bobot sekitar 1,35 kg — masih cukup ringkas untuk dibawa bepergian sehari-hari.
Tingkat kecerahan 350 nits ini cukup memadai untuk penggunaan di dalam ruangan, tapi kurang ideal untuk bekerja di luar ruangan dengan sinar matahari langsung. Banyak kompetitor di kelas harga menengah sudah menawarkan layar dengan 400-500 nits atau refresh rate lebih tinggi, jadi aspek ini bukan nilai plus yang istimewa.
Seperti seri Galaxy Book6 lainnya, varian ini mendukung sejumlah fitur Galaxy AI seperti AI Select, AI Cut Out, dan Note Assist. Fitur-fitur tersebut cukup membantu untuk produktivitas, terutama bagi pengguna yang sudah berada di ekosistem Samsung dengan ponsel Galaxy mereka.
Namun, dengan NPU yang hanya beredar di kisaran 15 TOPS, kemampuan AI-nya terbatas dibandingkan laptop dengan chip Snapdragon X atau Intel Lunar Lake yang menawarkan performa NPU jauh lebih tinggi. Fitur AI di sini memang ada, tapi bukan menjadi alasan utama untuk memilih laptop ini.
Beberapa trade-off perlu Anda pertimbangkan sebelum membeli Galaxy Book6:
Bodi tersedia dalam pilihan warna Violet Silver dan Gray, memberikan sentuhan elegan khas lini Galaxy Book. Untuk konektivitas, laptop ini membawa dua USB-C, satu USB-A, jack audio 3,5 mm, Wi-Fi 6E, dan Bluetooth 5.4. Speaker stereo yang dibekali Dolby Atmos seharusnya cukup untuk menonton video atau meeting virtual, meski tidak menyaingi kualitas speaker eksternal.
Samsung Galaxy Book6 adalah pilihan yang lebih masuk akal bagi pengguna yang mengutamakan mobilitas dan baterai panjang untuk produktivitas sehari-hari — bukan untuk kebutuhan performa kelas berat. Di harga USD 799 atau sekitar Rp 13 jutaan, Anda mendapatkan laptop tipis dengan fitur Galaxy AI, baterai besar, dan desain yang rapi.
Namun, sebelum membeli, perhatikan kerasnya persaingan di kelas harga ini. Kompetitor seperti laptop dengan chip Snapdragon X Plus atau AMD Ryzen 7 mungkin menawarkan performa CPU dan GPU lebih kencang di rentang harga yang serupa, meskipun mungkin tidak seefisien Galaxy Book6 dalam hal daya tahan baterai. Pilihan terbaik Anda tergantung prioritas: kalau yang dicari adalah baterai panjang dan ekosistem Samsung, Galaxy Book6 layak dipertimbangkan. Kalau performa adalah prioritas utama, perlu riset lebih lanjut.