Bupati Wakatobi Haliana menyerap langsung pengalaman Bali mengelola minuman tradisional khas daerah saat bertemu Gubernur Bali Wayan Koster di Denpasar, Rabu. Kunjungan ini menjadi langkah awal Wakatobi untuk mengadaptasi kebijakan produk lokal sekaligus memperkuat sektor pariwisata di Sulawesi Tenggara.
DENPASAR — Pemerintah Kabupaten Wakatobi membuka peluang kerja sama dengan Bali untuk mengembangkan pariwisata berbasis produk lokal. Bupati Wakatobi Haliana menyatakan ketertarikannya mempelajari tata kelola yang diterapkan Bali, khususnya dalam mengangkat minuman tradisional seperti arak yang kini menjadi komoditas unggulan.
Haliana mengakui Bali telah diakui dunia sebagai destinasi pariwisata. Menurutnya, pengalaman Bali dalam mengelola potensi daerah layak menjadi rujukan bagi Wakatobi yang tengah memperkuat sektor kepariwisataan.
“Saya mohon izin ke Pak Gubernur Bali, kita nanti akan studi banding terkait pemanfaatan produk lokal,” kata Haliana di Denpasar, Rabu.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa kunci pengembangan produk lokal bukanlah pelarangan, melainkan pengaturan yang baik. Ia mengambil contoh arak Bali yang kini mampu bersaing dengan produk minuman beralkohol kelas dunia.
“Jangan dilarang, tapi kita atur,” ucap Koster saat menerima kunjungan Bupati Wakatobi.
Koster menjelaskan bahwa produksi arak Bali dipastikan legal dan aman sepanjang memenuhi aturan. Namun, legalitas tersebut tidak lantas membuat arak Bali diperjualbelikan secara bebas. Tata kelola tetap diberlakukan mulai dari perizinan, pengemasan, pelabelan, hingga distribusi melalui koperasi atau distributor resmi.
Kebijakan ini berlandaskan Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali. Regulasi tersebut menjadi payung hukum perlindungan sekaligus pengembangan produk lokal seperti arak, brem, dan tuak.
“Kami tidak memberikan izin untuk korporasi besar, kami fasilitasi UMKM lokal Bali untuk mengambil bagian,” ujar Gubernur Koster.
Dampak positif kebijakan ini terlihat dari penjualan arak Bali di gerai kedatangan maupun keberangkatan Bandara I Gusti Ngurah Rai. Koster mencatat arak Bali menjadi salah satu produk dengan tingkat penjualan tertinggi dibandingkan produk lain.
Dalam pertemuan yang sama, Koster turut mengenalkan potensi garam Bali yang dinilainya memiliki kualitas sangat baik. Ia mendorong produk ini terus dikembangkan sebagai unggulan daerah.
Koster juga memberikan masukan agar Wakatobi memperkuat paket pariwisata. Menurutnya, sebuah paket wisata harus memiliki objek yang jelas dan menarik, didukung ketersediaan hotel, restoran, serta destinasi berkualitas.
“Kita bisa berlakukan paket pariwisata untuk menarik kunjungan wisatawan ke Wakatobi, harus ada objek yang ditawarkan, hotel, restoran, dan destinasi yang indah,” tutur Koster.
Bupati Wakatobi Haliana menyebut wilayahnya saat ini telah memiliki penerbangan langsung ke Bali sebanyak dua kali dalam sepekan. Konektivitas tersebut dinilai menjadi peluang untuk memperkuat hubungan pariwisata antara kedua daerah.
“Program yang bagus di Bali bisa kita implementasikan juga di Wakatobi,” kata Haliana.
Dari pertemuan ini, terbuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Bali dan Wakatobi, khususnya dalam pengembangan pariwisata dan produk lokal berbasis masyarakat. Wakatobi melihat peluang untuk mengadaptasi pola serupa sesuai dengan potensi daerahnya.