TABANAN — Ratusan hektare sawah di Tabanan terpaksa dibiarkan menganggur atau bero di tengah puncak kemarau yang melanda wilayah Bali. Para petani di sejumlah subak memilih tidak menanam karena pasokan air irigasi seret, sehingga berisiko menyebabkan gagal panen jika benih tetap dipaksakan ditanam.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Tabanan, I Gusti Putu Ekayana, menyebut fluktuasi debit air menjadi penentu utama produktivitas tani. "Dampak kekurangan air berbeda-beda di masing-masing wilayah. Sejumlah subak mengalami penurunan debit air sehingga pasokan ke lahan pertanian tidak mencukupi," ungkapnya pada Rabu (26/8).
Dari total 746 hektare lahan yang kekurangan air, kondisi bero paling luas tercatat di Kecamatan Pupuan. Di Subak Dangin, Desa Sanda, petani terpaksa mendiamkan 20 hektare lahan padi. Sementara di Subak Sempol, Desa Batungsel, lahan seluas 30 hektare kini telantar tanpa tanaman.
Kekeringan serupa melanda Subak Pupuan Luah di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur. Saluran irigasi yang mengering membuat 35 hektare lahan jagung tidak mendapatkan air sama sekali dan berstatus bero.
Selain membiarkan sawah menganggur, krisis air juga memaksa ratusan petani menunda masa tanam. Di Subak Antosari, Kecamatan Selemadeg Barat, proses penanaman padi di lahan seluas 105 hektare terhambat. Penundaan serupa terjadi di Subak Penatih, Kecamatan Kerambitan, yang mencakup 14 hektare sawah.
Di wilayah episentrum kekeringan, Kecamatan Selemadeg, petani menyiasati kondisi dengan mengubah pola tanam. Dari 468 hektare lahan terdampak di kecamatan ini, sebagian petani beralih menanam jagung untuk menjaga produktivitas lahan. Pola tanam itu diterapkan di Subak Serampingan seluas 79 hektare dan Subak Aseman II seluas 75 hektare.
Langkah mengistirahatkan sawah dari aktivitas bercocok tanam ini menjadi jalan terakhir demi mengembalikan tingkat kesuburan tanah secara alami. Pola ini juga sengaja dipilih untuk menghindari kerugian materi akibat risiko gagal tumbuh pada benih yang dipaksakan ditanam.
Distan Tabanan memastikan akan terus memantau fluktuasi ketersediaan air di seluruh subak terdampak. Koordinasi intensif juga terus diupayakan untuk meminimalkan kerugian ekonomi yang membayangi para petani.