BALI — Setelah setahun memensiunkan lini premium XPS, Dell melakukan pembalikan arah di ajang CES awal tahun ini. Hasilnya adalah XPS 13 (2026) yang baru, sebuah laptop yang secara terang-terangan diposisikan sebagai rival utama MacBook Neo dari Apple. Dengan harga yang bersaing, Dell mencoba merebut hati pengguna yang menginginkan laptop tipis, ringan, dan berkelas tanpa harus merogoh kocek di atas Rp 30 juta.
Dell menyederhanakan pilihan varian XPS 13 terbaru. Hanya ada dua konfigurasi yang ditawarkan, dan keduanya menggunakan prosesor yang sama, yaitu Intel Series 3 Core 5 320 (Wildcat Lake) dengan dua inti performa dan empat inti efisien.
Dari segi bodi, XPS 13 ini mengusung desain "refined" dengan rangka aluminium menyeluruh. Tersedia dalam warna perak "Sky" dan abu-abu gelap "Storm". Bobotnya hanya 2,2 pon, setengah pon lebih ringan dibanding MacBook Neo yang mencapai 2,7 pon. Ketipisan tepiannya juga membuat laptop ini terasa lebih ramping saat digenggam.
Keputusan Dell untuk menghilangkan port audio jack 3,5 mm mungkin akan mengganggu sebagian pengguna. Namun sebagai kompensasi, Dell menyertakan keyboard backlight, fitur yang tidak dimiliki MacBook Neo. Untuk urusan port, kedua USB-C di XPS 13 sama-sama mendukung kecepatan 10 Gbps, sementara salah satu port di MacBook Neo hanya USB 2.0.
Catatan kecil untuk desainnya: bagian tepi logam di belakang dekat ventilasi terasa cukup tajam. Karena bodinya sangat ringan, pengguna cenderung memegang laptop dari berbagai sudut, dan area inilah yang terasa kurang nyaman.
Hasil benchmark menunjukkan XPS 13 berada di bawah MacBook Neo untuk uji single-core Geekbench 6. Namun dalam uji multi-core, selisihnya tipis. Yang menarik, dalam pengujian transfer file 25 GB, varian 16 GB dengan SSD SK hynix tercatat sekitar 350 MB/s lebih cepat dibanding varian 8 GB yang memakai SSD Kioxia. Dell memang tidak menjamin merek komponen tertentu karena menggunakan multi-sumber.
Untuk urusan gaming, sebaiknya tidak berharap banyak. Grafis terintegrasi dengan dua inti Xe ini hanya cocok untuk game retro atau side-scroller 2D. Dalam uji 3DMark Steel Nomad, varian 8 GB bahkan tidak bisa menjalankan tes karena keterbatasan memori.
Hasil uji Cinebench 2026 menunjukkan varian 16 GB mampu bertahan di skor 1.600-an setelah loop keempat, sementara varian 8 GB terus berada di bawahnya. Pengembang benchmark Maxson menjelaskan bahwa sistem dengan RAM di bawah 8,5 GB akan memakai virtual memory, yang memicu paging signifikan dan menurunkan performa. Artinya, aplikasi berat seperti editing video akan terasa tersendat di varian 8 GB.
Perbedaan penggunaan nyata antara kedua varian terasa jelas saat membuka 15 tab Chrome sekaligus. Varian 16 GB menjalankan animasi Windows dengan lebih mulus dan perpindahan antar tab terasa instan. Sementara varian 8 GB sering menampilkan layar putih sesaat sebelum halaman muncul kembali. Jika kamu sering membuka banyak tab, fitur "tab sleep" di Chrome wajib diaktifkan untuk mengurangi beban RAM.
Panel 13,4 inci dengan resolusi 2560 x 1600 ini mampu menampilkan lebih dari 100 persen gamut sRGB dan sekitar 75 persen DCI-P3. Tingkat kecerahannya mencapai hampir 400 nits, sedikit di bawah MacBook Neo yang tercatat 452 nits. Namun keunggulan utama XPS 13 adalah dukungan layar sentuh, sesuatu yang masih belum dimiliki MacBook mana pun.
Satu catatan penting: panel dari Sharp dan LG yang digunakan Dell memiliki karakteristik berbeda. Unit 8 GB memiliki hitam yang lebih dalam tapi menunjukkan backlight glow di tepi layar. Unit 16 GB justru memiliki sudut pandang yang lebih sempit. Dell membenarkan adanya perbedaan panel karena multi-sourcing, namun menjamin semuanya memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.
Speaker quad dengan output puncak 8W menjadi kejutan menyenangkan. Suaranya mengisi ruangan tanpa distorsi berarti bahkan di volume 100 persen, dengan bass yang masih masuk akal untuk laptop setipis ini.
Dalam pengujian browsing, streaming video, dan tes OpenGL dengan kecerahan 150 nits, varian 16 GB bertahan lebih dari 14,5 jam. Varian 8 GB bertahan sekitar setengah jam lebih pendek, kemungkinan karena perbedaan efisiensi daya SSD. Angka ini mengungguli MacBook Neo yang bertahan sekitar 13 jam.
Dell juga layak diapresiasi karena menyertakan charger kecil dengan pin lipat dan kabel yang bisa dilepas. Ukurannya sebanding dengan charger smartphone dan jauh lebih praktis dibanding adaptor laptop konvensional. Sayangnya, tidak ada port USB-C tambahan di charger untuk mengisi daya perangkat lain secara bersamaan.
Dell membanderol XPS 13 (2026) dengan dua pilihan harga:
Keduanya sudah termasuk SSD 512 GB. Dell belum mengumumkan ketersediaan resmi untuk pasar Indonesia, namun mengingat lini XPS sebelumnya rutin masuk pasar lokal, kemungkinan besar laptop ini akan segera hadir melalui distributor resmi.
Dell XPS 13 (2026) bukanlah mesin bertenaga untuk rendering atau gaming berat. Namun untuk pengguna yang butuh laptop ringan dengan daya tahan baterai di atas 14 jam, keyboard nyaman, dan desain premium di bawah Rp 15 juta, laptop ini adalah pilihan terbaik di kubu Windows saat ini. Jika dibandingkan langsung dengan MacBook Neo, keputusan akhir kembali ke preferensi sistem operasi. Dell berhasil membuktikan bahwa Windows punya tandingan yang setara untuk kelas laptop premium terjangkau.