BALI — Mitsubishi akhirnya punya EV modern lagi setelah kegagalan i-MiEV hampir satu dekade lalu. Saya sempat menguji prototipe pra-produksi Eclipse Sportback di area Seattle, dan kesan pertamanya solid. Namun perlu ditegaskan sejak awal: ini bukan mobil yang sepenuhnya baru — ini adalah Nissan Leaf 2026 dengan badge Mitsubishi dan ubahan kosmetik. Pertanyaannya, apakah itu masalah? Tergantung ekspektasi Anda.
Dari depan, Eclipse Sportback berhasil tampil beda dari Leaf. Grille dengan 20 "gigi" — 10 di setiap sisi logo tiga berlian — memberi karakter yang jauh lebih tegas dibanding wajah Leaf yang cenderung datar. Lampu depan dan bumper juga didesain ulang total, membuat bagian depan terlihat seperti produk Mitsubishi asli, bukan sekadar tempelan.
Sayangnya, dari samping dan belakang, identitas Leaf masih sangat kental. Perbedaannya hanya pada velg, aksen krom di pilar C, dan huruf Mitsubishi besar di pintu bagasi. Kalau Anda berharap desainnya mengingatkan pada Eclipse generasi 90-an, bersiaplah kecewa — mobil ini tidak punya DNA sporty sama sekali dari segi visual.
Motor listrik 214 hp dengan torsi 261 lb-ft menggerakkan roda depan, cukup untuk akselerasi 0-100 km/jam dalam 6,9 detik (berdasarkan pengujian Leaf yang identik secara mekanis). Di jalanan Seattle yang penuh bundaran dan penyempitan jalur, respons gasnya langsung dan menyenangkan. Namun saat keluar dari tikungan dengan gas penuh, roda depan dalam sempat kehilangan traksi — konsekuensi dari layout FWD murni.
Bodi roll cukup terasa jika Anda memacu agresif, tapi mobil ini tetap bisa diprediksi. Untuk penggunaan campuran dalam kota dan tol, ia lebih menyenangkan daripada banyak mobil bensin sekelasnya. Sayangnya saya belum sempat menguji di kecepatan tol yang berkelanjutan, jadi stabilitas kecepatan tinggi masih perlu diverifikasi.
Isolasi kabin jadi salah satu nilai jual utama. Hampir tidak ada suara whine dari komponen kelistrikan, dan ban 18 inci dengan sidewall tebal meredam sebagian besar ketidakrataan jalan. Radius putar 35,4 kaki membuat mobil ini mudah bermanuver di parkiran sempit.
Material kabin adalah campuran antara soft-touch dan plastik keras. Joknya memakai kombinasi panel datar dan diamond-quilted, tapi ada satu detail yang langsung menarik perhatian: deretan empat tombol persegi hitam di tengah dasbor untuk Park, Reverse, Neutral, dan Drive. Ini terlihat sangat murahan untuk mobil di kisaran harga ini.
Strategi pengisian dayanya cerdas. Port NACS (Tesla) di fender kanan depan untuk DC fast charging dengan puncak 150 kW — mampu mengisi 10-80% dalam 35 menit dalam kondisi ideal. Ada juga port J-1772 di fender kiri untuk AC charging 7,2 kW yang mengisi 20-80% dalam sekitar 6,5 jam. Adaptor CCS-to-NACS sudah termasuk, dan menavigasi ke charger akan otomatis mengkondisikan baterai untuk pengisian tercepat.
Namun perlu dicatat: kecepatan 150 kW sebenarnya sudah tertinggal dari kompetitor sekelas di 2026. Banyak EV harga sama sudah menawarkan 200-250 kW. Untuk pengguna yang sering road trip, ini berarti waktu berhenti lebih lama.
Ada lima level regen (B1-B5) plus tombol e-Step yang menambah intensitas pengereman — pihak Mitsubishi menyebutnya "B8". Namun Anda tetap harus menginjak pedal rem untuk berhenti total di bawah 8 mph. Mobil ini juga mempertahankan creep torque seperti mobil matic konvensional, meski fitur Auto Hold bisa mematikannya setelah berhenti penuh.
Eclipse Sportback jelas bukan untuk Anda yang mencari performa atau teknologi pengisian terkini. Ini adalah mobil yang cocok untuk pengguna yang mengutamakan kenyamanan, keheningan, dan kepraktisan harian — dan tidak keberatan membayar lebih untuk badge Mitsubishi dengan desain depan yang lebih berkarakter.
Harga resmi akan diumumkan mendekati tanggal penjualan Oktober, dengan estimasi USD 35.000-40.000 (sekitar Rp 560-640 juta). Jika harganya benar-benar demikian, Anda perlu bertanya: apakah perbedaan desain depan cukup untuk membenarkan selisih harga dibanding Leaf? Untuk sebagian orang mungkin ya, tapi bagi yang rasional, Leaf tetap pilihan yang lebih masuk akal secara nilai.