BALI — Meta resmi meninggalkan RE100, inisiatif energi terbarukan yang diikuti lebih dari 400 perusahaan termasuk Microsoft, Google, dan Apple. Langkah ini diambil setelah perusahaan induk Facebook dan Instagram itu berkomitmen membiayai 10 pembangkit listrik tenaga gas alam sejak tahun lalu, seperti dilaporkan TechCrunch dan Recharge.
RE100 adalah program yang diawasi oleh Climate Group, organisasi nirlaba asal Inggris. Anggotanya berjanji untuk memenuhi 100 persen kebutuhan listrik mereka dari sumber terbarukan. Meta bergabung pada 2016 dengan target tercapai pada 2020. Namun, Climate Group menyatakan bahwa Meta "sudah tidak lagi memenuhi kriteria teknis karena investasi pada pembangkit gas baru."
Dalam pernyataan ke TechCrunch, Meta mengklaim tetap berkomitmen pada "100% energi bersih dan terbarukan." Pihaknya menyebut keputusan keluar dari RE100 adalah hasil kesepakatan bersama (mutual). Meski begitu, langkah ini jelas menunjukkan bahwa prioritas perusahaan berubah drastis sejak menggelontorkan dana besar untuk infrastruktur AI.
Sejak 2024, Meta telah mendanai 10 proyek pembangkit gas alam. Menurut TechCrunch, kapasitas total pembangkit-pembangkit itu cukup untuk memasok kebutuhan listrik seluruh negara bagian South Dakota di Amerika Serikat. Ini bukan sekadar pembelian sertifikat energi — Meta benar-benar membangun atau membiayai pembangkit baru.
Perusahaan biasanya memenuhi komitmen energi terbarukan dengan membeli Energy Attribute Certificates (EAC) untuk mengimbangi pemakaian bahan bakar fosil. Namun, volume gas alam yang kini digenggam Meta membuat strategi offset itu semakin sulit dipertahankan. Seorang analis yang diwawancarai Recharge berujar, "klaim 100 persen terbarukan menjadi lebih sukar untuk dibela."
RE100 bersifat sukarela — tidak ada sanksi hukum bagi anggota yang melanggar. Namun, kepergian Meta mencoreng citra perusahaan yang selama ini gencar mempromosikan inisiatif lingkungan. Di sisi lain, permintaan listrik pusat data AI memang melonjak drastis. Tanpa pasokan gas alam yang stabil, Meta mungkin kesulitan menjaga keandalan layanan.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google juga menghadapi tekanan serupa. Namun, belum ada dari mereka yang meninggalkan RE100. Langkah Meta terkesan lebih frontal: memilih keluar daripada terus membeli sertifikat hijau untuk menutupi jejak karbon dari pembangkit gas alamnya.
Climate Group enggan berkomentar lebih jauh selain pernyataan resmi bahwa Meta "tidak lagi memenuhi kriteria." Sementara itu, Meta menegaskan bahwa mereka masih akan membeli energi terbarukan dari jaringan listrik dan berinvestasi pada proyek-proyek baru. Namun, tanpa komitmen formal dalam RE100, transparansi pencapaian energi bersih Meta kini menjadi tanda tanya besar.
Bagi pengamat industri, ini adalah ujian bagi kredibilitas janji "net zero" perusahaan teknologi. Apakah Meta akan mengganti gas alam dengan sumber yang lebih hijau di masa depan, atau justru semakin dalam bergantung pada fosil? Jawabannya menentukan apakah klaim "100% renewable" Meta hanya sekadar gimmick pemasaran.