Debut Perdana Buleleng di PKB 2026, Sekehe Yowana Kalibukbuk Bawakan Janger “Atma Prasangka” untuk Bangkitkan Warisan 1960-an

Penulis: Feri Andika  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 22:05:17 WIB
Sekehe Yowana Mudita Desa Adat Kalibukbuk tampil perdana mewakili Buleleng di Parade Janger Remaja PKB 2026.

DENPASAR — Untuk kali pertama dalam sejarah, Kabupaten Buleleng ambil bagian dalam Parade Janger Remaja pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Wakil perdana itu adalah Sekehe Yowana Mudita Desa Adat Kalibukbuk yang membawakan garapan berjudul “Atma Prasangka” di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar, Kamis (25/6). Penampilan ini bukan sekadar unjuk kebolehan, melainkan upaya membangkitkan kembali kesenian Janger khas Kalibukbuk yang sempat populer di era 1960-an.

Rekonstruksi Janger dari Ingatan Para Tetua

Garapan “Atma Prasangka” lahir dari proses penelitian panjang. Pembina garapan, Gede Adi Setiawan, menyebut timnya menggali informasi dari mantan penari, penonton, hingga tetua desa yang masih menyimpan ingatan tentang pertunjukan Janger pada masa itu.

“Kami sepakat mengangkat kembali Janger yang pernah eksis di Desa Adat Kalibukbuk sekitar tahun 1960-an. Gending-gending yang dibawakan merupakan hasil penelusuran dari para narasumber,” ujar Adi.

Struktur dan pakem Janger terdahulu tetap dipertahankan. Pengembangan hanya dilakukan pada aspek koreografi untuk memperkuat nilai artistik, sementara lagu-lagu dan pola vokal dibiarkan sesuai bentuk aslinya. Tim pembina tabuh dan vokal turut dilibatkan dalam proses rekonstruksi ini.

Lakon “Atma Prasangka”: Refleksi Prasangka dan Keseimbangan Hidup

Melalui lakon “Atma Prasangka”, pertunjukan mengangkat tema tentang prasangka dalam kehidupan manusia. Cerita menggambarkan bagaimana seseorang kerap mengetahui kebenaran namun memilih diam, atau justru merasa paling benar padahal berada dalam kekeliruan.

Pesan itu dipadukan dengan konsep Atma Kerthi, yang mengajarkan kesadaran manusia terhadap jati diri, keseimbangan batin, serta keharmonisan antara unsur purusa dan pradana. “Pernahkah kita sadar siapa diri kita, untuk apa kita hidup, dan apa yang harus kita lakukan. Itulah yang ingin kami renungkan melalui karya ini,” kata Adi.

Proses Tiga Bulan dan Harapan agar Janger Kembali Ngayah

Proses penyusunan karya memakan waktu cukup panjang. Selain menjalani latihan selama tiga bulan, Sekehe Yowana Mudita juga melakukan penelusuran sejarah dengan menghimpun informasi dari berbagai narasumber untuk merekonstruksi bentuk Janger yang telah lama tidak dipentaskan.

Bagi para pemuda di Desa Adat Kalibukbuk, keikutsertaan sebagai duta pertama Buleleng di PKB menjadi langkah awal. Mereka berharap Janger tidak hanya tampil di panggung festival, tetapi juga kembali hidup dalam aktivitas masyarakat melalui ngayah di desa adat maupun kegiatan kebudayaan lain di Kabupaten Buleleng.

“Semoga penampilan ini menjadi awal agar Janger di Kabupaten Buleleng terus eksis, berkembang, dan kembali menjadi identitas budaya yang diwariskan kepada generasi muda,” pungkas Adi.

Keikutsertaan perdana ini menjadi tonggak penting bagi pelestarian seni Janger di Buleleng, sekaligus menunjukkan komitmen generasi muda dalam menjaga warisan budaya lokal di tengah dinamika zaman.

Reporter: Feri Andika
Sumber: updatebali.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top