Penyuluh Agama Hindu Kemenag Gianyar Ajak Siswa SMK PGRI 2 Pahami Makna Galungan di Tengah Tren Medsos

Penulis: Feri Andika  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 21:34:01 WIB
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Gianyar memberikan pembinaan makna Galungan kepada siswa SMK PGRI 2 Gianyar.

GIANYAR — Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar mengingatkan siswa SMK PGRI 2 Gianyar agar tidak terjebak pada euforia visual semata saat merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Di tengah derasnya arus konten media sosial yang sering menyertai hari raya, para pelajar diajak untuk menggali nilai spiritual yang lebih dalam dari kedua perayaan tersebut.

Membedah Makna Galungan di Era Digital

Dalam sesi pembinaan tersebut, penyuluh menyoroti tren unggahan foto dan video di platform seperti Instagram dan TikTok yang marak saat perayaan. Meskipun dianggap sebagai bentuk ekspresi, penyuluh menekankan bahwa esensi Galungan bukanlah pada estetika konten, melainkan pada kemenangan dharma melawan adharma yang dirayakan secara spiritual.

Para siswa diajak untuk merefleksikan makna "Galungan" sebagai momen introspeksi diri dan penguatan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dinilai krusial agar tradisi keagamaan tidak tergerus oleh arus popularitas di dunia maya.

Pembinaan Karakter Lewat Pendekatan Kontekstual

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan karakter yang menyasar generasi muda Hindu di Gianyar. Penyuluh menggunakan pendekatan kontekstual dengan mengaitkan ajaran agama pada realitas yang dihadapi remaja saat ini, termasuk fenomena kecanduan gawai dan tekanan sosial di media sosial.

Para siswa terlihat antusias mengikuti diskusi interaktif. Beberapa di antaranya mengaku baru pertama kali mendalami makna filosofis Galungan secara lebih serius, di luar kebiasaan mengunggah foto bersalam-salaman saat Hari Raya.

Antisipasi Degradasi Nilai Tradisi

Kemenag Gianyar menilai langkah preventif seperti ini perlu dilakukan secara berkelanjutan. Tanpa pemahaman yang benar, dikhawatirkan generasi muda hanya akan mengingat hari raya sebagai momen seremonial tanpa penghayatan spiritual yang utuh.

Penyuluh berharap, dengan pemahaman yang lebih mendalam, para siswa dapat menjadi agen pelestari budaya dan agama yang tidak sekadar ikut-ikutan tren, tetapi mampu menyaring konten keagamaan di media sosial dengan bijak.

Reporter: Feri Andika
Sumber: baliexpress.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top