DENPASAR — Pulau Bali selama ini dihormati dunia bukan karena kekuatan politik atau kehadiran kelompok yang tampil lantang mengatasnamakan diri sebagai penjaga pulau. Sebaliknya, pengamat budaya Bali, Ketut Wisna ST MM, menilai bahwa keistimewaan Bali lahir dari peradaban yang hidup, yang tumbuh dari nilai menyama braya, semangat ngayah, gotong royong, serta keseimbangan antara manusia, alam, budaya, dan spiritualitas.
Menurut Ketut Wisna, rasa aman yang dirasakan wisatawan dan kenyamanan yang menjadi daya tarik utama Bali merupakan hasil kerja kolektif masyarakat Bali selama berabad-abad. Semua itu dijaga melalui tradisi, adat istiadat, dan kesadaran sosial yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Belakangan ini, Ketut Wisna menyoroti munculnya fenomena kelompok yang tampil lantang mengatasnamakan diri sebagai "penjaga Bali". Mereka hadir dengan simbol-simbol kekuatan dan menunjukkan eksistensi di ruang publik.
"Pertanyaannya sederhana. Benarkah Bali membutuhkan pertunjukan kekuatan semacam itu? Ataukah yang sedang terjadi sebenarnya adalah perlombaan mencari pengaruh, membangun eksistensi, atau bahkan menciptakan rasa takut yang dibungkus dengan narasi menjaga Bali?" ujarnya dalam keterangan yang diterima di Denpasar, baru-baru ini.
Ketut Wisna menjelaskan bahwa kekuatan pulau ini justru tidak pernah lahir dari kelompok yang ingin terlihat paling kuat. Kekuatan Bali hidup di desa-desa adat, di banjar-banjar, dan di tengah masyarakat yang menjalankan nilai budaya secara tulus.
Ia mencontohkan, saat pujawali berlangsung, masyarakat datang ngayah tanpa harus diperintah. Ketika ada warga yang berduka, bantuan mengalir tanpa perlu instruksi. Saat keamanan lingkungan diperlukan, pecalang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab karena kesadaran adat, bukan karena kepentingan menunjukkan kekuasaan.
"Inilah wajah Bali yang sebenarnya. Kekuatan yang tumbuh dari solidaritas, bukan dominasi. Kekuatan yang lahir dari pengabdian, bukan pencitraan," tegasnya.
Menurut Ketut Wisna, ancaman terbesar bagi Bali sesungguhnya bukanlah orang yang datang dari luar. Ancaman justru muncul ketika masyarakat Bali sendiri mulai menjauh dari budayanya, melupakan akar spiritualnya, mengabaikan adat istiadatnya, dan mengganti nilai menyama braya dengan ego kelompok maupun kepentingan sesaat.
"Ketika budaya mulai ditinggalkan, ketika tradisi tidak lagi diwariskan, dan ketika solidaritas sosial melemah, saat itulah fondasi Bali perlahan terkikis. Ancaman seperti ini jauh lebih berbahaya," ujarnya.
Pengamat budaya itu menekankan bahwa apabila ada organisasi atau gerakan yang lahir dengan niat menjaga Bali, orientasinya seharusnya bukan pada demonstrasi kekuatan. Energi yang dimiliki semestinya diarahkan untuk memperkuat pendidikan budaya, melestarikan bahasa Bali, menjaga lingkungan, merawat pura dan tradisi, serta menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
"Bali tidak akan kehilangan jati dirinya karena tidak memiliki 'jagoan'. Bali tetap kuat selama masyarakatnya menjaga nilai-nilai yang menjadi ruh peradaban pulau ini. Namun Bali bisa kehilangan masa depannya apabila budayanya tidak lagi dirawat dan diwariskan," pungkas Ketut Wisna.