JEMBRANA — Kematian Ni Ketut Sari (IRT) akibat suspek rabies di Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, membuka celah dalam rantai penanganan pasca-gigitan hewan penular rabies (HPR) di Kabupaten Jembrana. Korban yang meninggalkan suami dan dua orang anak (kelas 1 SMA dan 1 SD) tidak mendapatkan satu pun suntikan Vaksin Anti Rabies (VAR) hingga jenazahnya diabén pada 28 Mei 2026.
Kepala Bidang Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, mengungkapkan pihaknya baru menerima surat pemberitahuan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jembrana pada Rabu (3/6/2026) — lebih dari sepekan setelah korban meninggal. "Lantaran baru menerima surat, sehingga hari ini sebagai upaya pencegahan dilakukan vaksinasi emergency," ujar Sugiarta kepada detikBali, Kamis (4/6/2026).
Peristiwa gigitan terjadi pada April 2026 saat Sari tengah menjemur pakaian di depan rumah. Seekor kucing liar menyerang dan menggigit betis kanannya. Korban memilih mengabaikan luka tersebut dan tidak mencari pertolongan medis. Baru pada 23 Mei 2026, kondisinya mendadak drop dan ia dilarikan ke puskesmas, lalu dirujuk ke RSU Negara karena kondisi terus memburuk. Di rumah sakit, gejala khas rabies mulai tampak: Sari mengalami hidrofobia (ketakutan hebat saat melihat air) dan aerofobia (gelisah saat terkena embusan angin). Ia meninggal keesokan harinya.
Setelah menerima laporan, petugas langsung bergerak melakukan vaksinasi darurat terhadap 20 ekor anjing dan satu ekor kucing dalam radius 3 km dari rumah korban. Selain itu, sampel otak dari empat ekor anjing milik warga sekitar telah dikirim ke Balai Veteriner Denpasar untuk uji laboratorium guna memastikan penyebaran virus rabies. "Hari ini dilakukan vaksinasi di wilayah kasus gigitan dan pengiriman sampel otak pada 4 ekor anjing," papar Sugiarta.
Berdasarkan data periode Januari hingga Juni 2026, Kabupaten Jembrana mencatat 33 kasus gigitan anjing positif rabies. Kasus yang menimpa Ni Ketut Sari menjadi satu-satunya kematian pada manusia akibat dugaan rabies sepanjang tahun ini. Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, sebelumnya nihil kasus rabies pada manusia. Kasus ini menjadi pengingat bahwa keterlambatan penanganan pasca-gigitan, terutama pada hewan liar seperti kucing, bisa berakibat fatal.