NUSA DUA — Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 resmi menutup penyelenggaraan ke-12 dengan torehan potensi transaksi Rp6,9 triliun. Angka itu menjadi indikator bahwa Indonesia masih menjadi destinasi kompetitif di mata dunia, meskipun tekanan ekonomi global belum mereda.
Ketua Panitia BBTF 2026 sekaligus Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, menegaskan bahwa pasar global saat ini tidak lagi sekadar mencari destinasi murah. "Buyer mencari destinasi yang siap, kredibel, dikelola dengan baik, dan mudah dijual dengan percaya diri," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Senin.
Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Puspa, yang hadir dalam penutupan BBTF 2026 menyebut capaian ini menjadi pengingat bagi industri untuk memperkuat kualitas destinasi, konektivitas, dan kesiapan produk. Menurutnya, pertumbuhan pariwisata ke depan harus dibangun melalui kualitas, bukan sekadar volume.
"Pemerintah terus mendorong pendekatan dengan berbagai airline untuk memperkuat konektivitas, sekaligus membawa curated products dari berbagai destinasi Indonesia melalui Indonesia Pavilion agar semakin siap ditampilkan kepada pasar global," kata Ni Luh Puspa.
Panitia menekankan bahwa nilai transaksi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah travel fair. Nilai terbesar justru terletak pada kontrak lanjutan, pengembangan itinerary baru, perluasan pasar, dan kemitraan yang lebih kuat setelah acara usai.
Dalam konteks Bali, BBTF 2026 juga mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama dan menjelajah lebih luas. "Masa depan pariwisata Bali bukan sekadar menarik lebih banyak wisatawan. Yang lebih penting adalah menarik pasar yang tepat, mengembangkan produk yang tepat, dan melindungi destinasi dengan cara yang tepat," tegas Winastra.
Menutup penyelenggaraan tahun ini, panitia memperkenalkan tema untuk BBTF 2027 yang dijadwalkan berlangsung pada 9-11 Juni 2027 di lokasi yang sama, BICC Nusa Dua. Tema "Bali & Beyond: Regenerative Travel, Elevated" akan membawa percakapan pariwisata ke tingkat yang lebih tinggi.
"Bukan hanya tentang pertumbuhan, tetapi tentang kualitas pertumbuhan dan dampak positif bagi masyarakat, budaya, dan alam," ujar Winastra. Tahun ini BBTF mengangkat gastronomi, budaya, dan warisan berkelanjutan; tahun depan fokusnya akan bergeser pada bagaimana pariwisata memberi kontribusi lebih positif bagi destinasi dan ekonomi lokal.
BBTF 2026 menjadi pengingat bahwa promosi saja tidak lagi cukup. Destinasi harus siap dari sisi produk, layanan, akses, infrastruktur, storytelling, dan tata kelola. Indonesia memiliki aset pariwisata luar biasa, tetapi aset tersebut harus diterjemahkan menjadi produk yang siap jual dan didukung layanan yang konsisten.