BALI — Stellantis serius menggarap segmen mobil listrik perkotaan yang terjangkau. Dua ikon retro, Fiat Panda dan Citroen 2CV, akan dihidupkan kembali sebagai kendaraan listrik murni (BEV) pada 2028. Keduanya dibangun di atas platform anyar bernama 'E-car' yang dirancang khusus untuk memenuhi regulasi kelas M1E Uni Eropa, yakni mobil listrik dengan panjang di bawah 4,2 meter dan diproduksi di kawasan EU.
Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh Emanuele Cappellano, Kepala Stellantis untuk Eropa, dalam wawancara dengan Autocar. “Kami perlu fokus mengembangkan platform BEV native. Skala produksi dan dukungan pemasok menjadi kunci untuk mencapai target biaya dan harga €15.000,” ujar Cappellano.
Harga tersebut setara dengan £13.000 atau sekitar Rp 250 juta (estimasi kurs Rp 19.000 per poundsterling). Angka ini menjadikan Fiat Panda EV dan Citroen 2CV EV sebagai salah satu mobil listrik termurah di Eropa. Seluruh proses perakitan akan dipusatkan di pabrik Pomigliano, Italia, mulai 2028.
Cappellano menambahkan bahwa pihaknya masih menjajaki kerja sama dengan mitra, termasuk OEM asal China, untuk mempercepat pengembangan platform dan teknologi baterai. “Kami juga belajar dari mereka soal time to market dan teknologi motor listrik,” katanya.
Satu pertanyaan krusial bagi pengguna Indonesia yang mengikuti perkembangan ini: apakah mobil listrik mungil ini bakal tersedia dalam versi setir kanan (RHD)? Cappellano mengaku 95 persen yakin akan ada versi RHD untuk Inggris. “Saya belum tahu pasti, tapi saya 95 persen yakin. Pasar BEV Inggris sangat penting bagi kami,” ujarnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa keputusan final masih bergantung pada investasi konversi setir kanan. Regulasi super kredit M1E dari Uni Eropa akan mendorong produksi, tapi belum ada jaminan insentif serupa dari pemerintah Inggris untuk ZEV mandate. Situasi ini mirip dengan Renault Twingo yang versi RHD-nya tertunda karena masalah pendanaan.
Stellantis tidak menutup kemungkinan memperluas jajaran E-car ke merek lain. “Fiat pasti, Citroën pasti. Merek lain berpotensi,” kata Cappellano. Ia menyebut Peugeot dan Vauxhall sebagai kandidat kuat, namun keputusan akan dibahas bertahap setelah dua model pertama berjalan.
Langkah ini menunjukkan strategi Stellantis untuk meraih economies of scale dengan satu platform yang dipakai banyak merek. Dengan begitu, harga jual bisa ditekan tanpa mengorbankan margin.
Untuk penggemar otomotif Tanah Air, kabar ini masih bersifat long shot. Stellantis belum memiliki rencana distribusi resmi untuk model-model ini di Asia Tenggara. Namun, jika versi setir kanan benar-benar terealisasi, bukan tidak mungkin mobil-mobil retro listrik ini bisa masuk ke pasar Indonesia melalui jalur importir umum atau ATPM di masa depan.
Yang jelas, persaingan mobil listrik murah global semakin panas. Setelah Renault Twingo, kini giliran Fiat Panda dan Citroen 2CV yang siap menggoda konsumen urban dengan gaya klasik dan harga ramah kantong.