Bulog Siap Ekspor Beras Premium ke Malaysia, Target Harga Jual di Atas Rp 16.000 per Kg

Penulis: Haris Maulana  •  Jumat, 29 Mei 2026 | 19:03:31 WIB
Bulog tengah menyiapkan ekspor beras premium ke Malaysia dengan harga target di atas Rp16.000 per kilogram.

BALI — Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah menyiapkan ekspor beras premium ke pasar Malaysia. Ia menyebut harga jual berpotensi menembus angka Rp16.000 per kilogram, lebih tinggi dari harga di pasar domestik.

"Ya, insya Allah seperti itu," ujar Ahmad saat ditemui di kantornya di Jakarta Selatan pada Jumat (29/5/2026).

Keuntungan Petani Jadi Prioritas

Ekspor ini bukan sekadar transaksi dagang. Ahmad menegaskan, sesuai arahan Presiden Prabowo, setiap pengiriman beras ke luar negeri harus memberikan nilai tambah nyata bagi petani di hulu. Artinya, harga beli gabah dari petani harus kompetitif, bukan malah menekan mereka.

Dengan target harga ekspor di atas Rp16.000 per kg, Bulog optimistis margin keuntungan bisa dibagi secara adil antara petani, perusahaan, dan negara. Skema ini diharapkan memperkuat insentif bagi petani untuk terus meningkatkan kualitas produksi beras premium.

Diskusi Internal Sebelum Harga Final

Meski target harga sudah dibidik, Bulog belum memutuskan angka pasti. Ahmad mengungkapkan, pihaknya masih akan menggelar diskusi internal bersama direktur pemasaran dan Menteri Pertanian untuk menentukan harga ekspor yang paling ideal.

"Nah kami akan diskusi dulu ya dengan direktur pemasaran termasuk juga dengan Pak Menteri Pertanian dalam hal ini untuk minta petunjuk yang terbaik seperti apa," ucap dia.

Pembahasan ini krusial mengingat harga ekspor harus kompetitif di pasar Malaysia, namun tetap menguntungkan semua pihak di dalam negeri. Bulog juga perlu mempertimbangkan biaya logistik, standar kualitas, dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Peluang Pasar Baru di Tengah Produksi Nasional

Langkah Bulog membuka pasar ekspor beras premium ke Malaysia menjadi sinyal positif bagi industri perberasan nasional. Selama ini, Indonesia lebih dikenal sebagai importir beras, bukan eksportir. Jika terealisasi, ekspor ini bisa menjadi bukti bahwa produksi beras dalam negeri, khususnya segmen premium, sudah berdaya saing di kawasan Asia Tenggara.

Kendati demikian, Bulog masih harus memastikan pasokan beras premium di dalam negeri tetap aman sebelum mengirimkannya ke luar negeri. Keputusan final harga dan volume ekspor diharapkan rampung dalam waktu dekat setelah seluruh konsultasi dengan Kementerian Pertanian selesai.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: inews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top