TABANAN — Sepinya kawasan wisata Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, Bali, masih berlanjut hingga paruh pertama tahun 2026. Pengelola DTW Jatiluwih mengakui angka kunjungan tak kunjung merangkak naik seperti yang diharapkan.
Dua faktor utama dituding menjadi penyebab lesunya kunjungan ke salah satu destinasi warisan budaya dunia ini. Pertama, harga tiket pesawat yang belum juga turun ke level normal pasca-pandemi. Kedua, ketegangan geopolitik global yang membuat calon wisatawan, khususnya dari luar negeri, menunda perjalanan jarak jauh.
“Kondisi ini sangat terasa. Biasanya awal tahun ada gelombang kunjungan, tapi sekarang masih sepi,” ujar salah satu pengelola DTW Jatiluwih.
Sepinya wisatawan langsung berdampak pada pendapatan masyarakat lokal yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata. Para pemilik warung, pemandu wisata, dan petani yang mengelola subak mulai merasakan penurunan omzet.
Di masa normal, Jatiluwih bisa menerima ribuan pengunjung setiap bulan. Pemandangan sawah terasering yang ikonik dan sistem irigasi subak menjadi daya tarik utama. Namun, situasi tahun ini berbeda.
Pengelola DTW Jatiluwih mengaku terus berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Tabanan untuk mencari solusi. Beberapa strategi mulai disiapkan, termasuk menggandeng agen perjalanan untuk paket wisata domestik dan memperkuat promosi digital.
“Kami berharap situasi global segera membaik dan harga tiket pesawat bisa lebih terjangkau. Ini bukan hanya soal Jatiluwih, tapi seluruh pariwisata Bali,” pungkasnya.