BULELENG — Ambisi Pemerintah Kabupaten Buleleng untuk menuntaskan masalah jalan rusak dipastikan membentur tembok tebal. Harga aspal yang melejit hingga 50 persen membuat rencana awal perbaikan infrastruktur harus dikaji ulang.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Buleleng, Putu Eka Putra, mengakui bahwa kenaikan harga material ini di luar perkiraan. Akibatnya, sejumlah proyek perbaikan ruas jalan yang sudah masuk dalam perencanaan tahun anggaran 2025 terancam molor jika tetap memaksakan spesifikasi awal.
Kenaikan harga aspal di Buleleng dipicu oleh melambungnya harga minyak dunia yang menjadi bahan baku utama aspal. Selain itu, distribusi dari kilang ke daerah juga terkendala biaya logistik yang terus naik.
“Kami dihadapkan pada pilihan sulit. Jika tetap menggunakan hotmix, volume perbaikan yang bisa dikerjakan akan jauh berkurang. Akhirnya kami ambil opsi mengubah spesifikasi menjadi rabat beton di beberapa titik prioritas,” ujar Putu Eka Putra, Selasa (11/2/2025).
Perubahan spesifikasi ini bukan tanpa konsekuensi. Jalan rabat beton memang memiliki daya tahan lebih lama dan perawatan lebih murah dibanding aspal. Namun, proses pengerjaannya lebih lambat dan membutuhkan waktu pengeringan yang lebih panjang.
Pemkab Buleleng memastikan bahwa pengalihan ke rabat beton hanya berlaku untuk ruas jalan dengan volume kendaraan rendah hingga menengah. Sementara untuk jalan arteri utama yang menjadi akses ekonomi, Pemkab tetap mengupayakan penggunaan aspal hotmix meski dengan volume lebih terbatas.
Hingga saat ini, Dinas PUPR Buleleng masih melakukan verifikasi ulang terhadap daftar ruas jalan yang masuk dalam program perbaikan. Dari total 15 ruas yang direncanakan, setidaknya 6 ruas dipastikan akan menggunakan spesifikasi rabat beton.
“Kami tidak ingin berhenti di tengah jalan. Daripada tidak ada perbaikan sama sekali karena harga aspal mahal, lebih baik kami kerjakan dengan beton. Warga tetap bisa menikmati jalan layak,” tambah Putu.
Pemkab Buleleng berencana mengajukan tambahan anggaran perubahan (APBD-P) jika harga aspal mulai menunjukkan tren penurunan pada semester kedua tahun ini. Namun, jika harga tetap tinggi, spesifikasi rabat beton akan menjadi standar sementara untuk proyek perbaikan jalan di Buleleng.
Warga yang selama ini mengeluhkan kondisi jalan berlubang di sejumlah desa, seperti di Kecamatan Sukasada dan Banjar, berharap perbaikan segera terealisasi. “Yang penting jalan mulus dulu, aspal atau beton tidak masalah asal tidak becek dan berlubang,” ujar Nyoman, seorang pengendara motor asal Kecamatan Banjar.