DENPASAR — Asumsi umum yang menyebut pelemahan rupiah menguntungkan pelaku ekspor mendapat bantahan keras dari pengusaha mebel dan kerajinan di Bali. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Bali, I Ketut Sudiana, menegaskan realitas di lapangan justru berkebalikan.
Menurut Sudiana, sebagian besar bahan baku industri mebel dan kerajinan di Bali, seperti kayu olahan, finishing material, hingga aksesori logam, masih bergantung pada pasokan impor. "Kenaikan dolar otomatis membuat harga bahan baku naik drastis. Margin kami tergerus, bukan bertambah," ujarnya kepada wartawan di Denpasar, Selasa (15/4/2025).
Ia menjelaskan, lonjakan biaya produksi ini tidak bisa serta-merta dibebankan ke harga jual produk ekspor. Sebab, kontrak dengan pembeli luar negeri umumnya sudah disepakati jauh-jauh hari dengan nilai tetap dalam dolar.
Sudiana memaparkan, ketika nilai tukar rupiah melemah, secara hitungan kasar pendapatan eksportir dalam rupiah memang naik. Namun, kenaikan itu langsung tergerus oleh kenaikan biaya produksi yang lebih cepat. "Kalau dulu margin bersih masih ada, sekarang hampir tidak terasa. Apalagi di tengah persaingan ketat dengan produk Vietnam dan China," ungkapnya.
Kondisi ini memaksa sejumlah pengusaha anggota HIMKI Bali untuk menunda pengiriman atau merenegosiasi kontrak dengan pembeli. Beberapa lainnya bahkan memilih mengurangi kapasitas produksi sementara waktu hingga situasi nilai tukar lebih stabil.
Para pengusaha berharap pemerintah pusat dan Bank Indonesia dapat segera melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Selain itu, mereka mendorong adanya kebijakan yang memudahkan akses bahan baku lokal sebagai substitusi impor.
"Kami butuh kepastian. Kalau dolar terus naik, bukan tidak mungkin industri kerajinan khas Bali yang jadi andalan pariwisata ini akan kehilangan daya saingnya di pasar global," kata Sudiana menambahkan.
HIMKI Bali saat ini tengah menyusun data dampak kenaikan dolar terhadap omzet dan tenaga kerja di sektor ini untuk disampaikan ke Kementerian Perindustrian. Mereka berharap ada stimulus atau insentif fiskal bagi pengusaha yang terdampak langsung oleh fluktuasi kurs.