DENPASAR — Tarif tiket pesawat rute Jakarta-Bali pada kelas bisnis dilaporkan mencapai Rp 14 juta per kursi, memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap sektor pariwisata di Pulau Dewata. Lonjakan harga ini terjadi di tengah masa transisi menuju musim liburan, membuat para pelaku industri mulai menghitung potensi penurunan jumlah pengunjung.
Meski harga kelas bisnis melambung tinggi, tarif kelas ekonomi rute yang sama tercatat masih berada di kisaran Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta per orang untuk penerbangan langsung. Namun, harga tersebut tetap lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, di mana tiket ekonomi bisa didapatkan di bawah Rp 1 juta.
Sejumlah agen perjalanan di Bali mengaku mulai kesulitan menjual paket wisata dengan margin harga tiket yang tipis. "Kalau harga tiket naik terus, otomatis paket liburan jadi lebih mahal. Wisatawan lokal biasanya langsung mencari destinasi alternatif," ujar seorang staf biro perjalanan di Kuta, pekan lalu.
BPS Bali mencatat bahwa pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara ke provinsi ini mulai menunjukkan tren melandai dalam beberapa bulan terakhir. Angka kunjungan wisman yang sebelumnya melesat usai pandemi, kini tumbuh lebih lambat dibandingkan proyeksi awal pemerintah daerah.
Fenomena serupa juga terjadi pada wisatawan nusantara. Meski jumlahnya masih mendominasi, okupansi hotel berbintang di kawasan Sanur dan Nusa Dua pada pekan kedua bulan ini hanya mencapai 60 persen. Angka itu turun signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang masih menyentuh 75 persen.
Pengamat pariwisata Universitas Udayana menilai bahwa kenaikan harga tiket pesawat menjadi faktor dominan yang memengaruhi keputusan wisatawan. "Bali bersaing dengan destinasi domestik lain seperti Lombok dan Yogyakarta. Kalau ongkos terbang ke Bali lebih mahal, orang akan pilih yang lebih murah," jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah perlu segera berkoordinasi dengan maskapai dan regulator penerbangan untuk mencari solusi. Salah satu opsi yang bisa ditempuh adalah menambah frekuensi penerbangan dari kota-kota besar lain di Indonesia agar harga tidak melonjak drastis pada musim tertentu.
Dinas Pariwisata Bali mengaku telah menerima laporan terkait keluhan harga tiket ini dan berencana menggelar rapat koordinasi dengan pihak maskapai pekan depan. Pemerintah provinsi juga tengah mendorong promosi wisata berbasis komunitas untuk menarik wisatawan yang lebih peduli pada pengalaman ketimbang biaya transportasi.
Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi mengenai kebijakan subsidi tiket atau insentif bagi maskapai yang bersedia menahan harga. Pelaku usaha diharapkan tetap waspada dan mulai menyusun strategi pemasaran yang lebih agresif untuk mengantisipasi musim sepi pengunjung.