Penyerang Manchester City Khadija Shaw resmi menyabet gelar Pemain Terbaik Wanita versi Football Writers' Association (FWA) musim ini. Meski tampil tajam dengan koleksi 19 gol, masa depan bintang asal Jamaika tersebut di Stadion Etihad justru terancam berakhir akibat kebuntuan negosiasi kontrak baru.
Khadija Shaw mengukuhkan posisinya sebagai striker paling mematikan di Inggris setelah memenangi penghargaan bergengsi dari para jurnalis sepak bola. Pemain berusia 29 tahun itu tampil dominan sepanjang musim dengan mencetak 19 gol dari 21 pertandingan, yang sekaligus membawa Manchester City memutus dominasi Chelsea di puncak klasemen Women's Super League (WSL).
Namun, prestasi individu ini dibayangi oleh kabar keretakan hubungan antara sang pemain dan manajemen klub. Laporan terbaru menyebutkan bahwa pembicaraan mengenai perpanjangan kontrak Shaw menemui jalan buntu, yang membuka peluang bagi klub rival untuk membajak sang striker secara gratis pada bursa transfer musim panas mendatang.
Chelsea berada di posisi terdepan untuk mengamankan jasa Shaw setelah komunikasi sang pemain dengan Manchester City dilaporkan terputus. The Blues dikabarkan siap menawarkan durasi kontrak yang lebih panjang serta nilai kontrak mencapai £1 juta per tahun untuk meyakinkan Shaw pindah ke London Barat.
Manajer Manchester City, Andree Jeglertz, menyatakan harapannya agar sang pemain tetap bertahan meski ia menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada manajemen. "Saya masih berharap dia menandatangani kontrak baru dengan Manchester City, tetapi itu lebih merupakan diskusi bagi pemain dan orang-orang di klub," ujar Jeglertz pada Jumat waktu setempat.
Di sisi lain, pelatih Chelsea Sonia Bompastor tidak membantah ketertarikan klubnya terhadap sosok striker murni. Dalam konferensi pers terbaru, Bompastor menegaskan bahwa mendatangkan pemain nomor sembilan berkualitas merupakan prioritas utama dalam daftar belanjanya untuk musim depan.
Ketajaman Shaw musim ini memang sulit ditandingi. Ia kini hanya terpaut satu gol untuk menjadi pemain pertama dalam sejarah WSL yang mampu mencetak 20 gol atau lebih dalam tiga musim berbeda secara beruntun. Konsistensi ini membuat rekan setimnya, Sam Coffey, memberikan pujian setinggi langit.
Coffey menyebut Shaw sebagai sosok yang tidak nyata di atas lapangan hijau. "Dia seperti pemain dalam video game karena kemudahannya dalam mendominasi pemain bertahan lawan dan mencetak gol," ungkap Coffey menggambarkan kekuatan fisik dan penyelesaian akhir rekannya tersebut.
Statistik impresif Shaw sepanjang musim ini meliputi:
Situasi transfer ini memanas tepat sebelum Manchester City dijadwalkan bertemu Chelsea pada laga semifinal FA Cup, Minggu (5/5). Pertandingan ini akan menjadi sorotan tajam mengingat Shaw akan menghadapi klub yang paling santer dikabarkan menjadi pelabuhan barunya musim depan.
Pemenang dari laga krusial ini akan melaju ke partai final di Stadion Wembley pada 31 Mei mendatang untuk menghadapi pemenang antara Liverpool atau Brighton. Bagi Shaw, laga ini merupakan kesempatan untuk membuktikan profesionalismenya di tengah spekulasi masa depan yang terus bergulir sebelum ia benar-benar memutuskan untuk bertahan atau hengkang dari Manchester.