GIANYAR — Dewata Shelter resmi beroperasi di Banjar Gelumpang, Desa Sukawati, Kabupaten Gianyar sejak Sabtu (2/5) sebagai pusat penanganan anjing telantar. Fasilitas sederhana berbahan bambu ini menjadi solusi konkret bagi persoalan hewan liar yang selama ini kerap tidak tertangani dengan baik di kawasan tersebut.
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 63 ekor anjing telah ditangani oleh pengelola shelter. Dari jumlah tersebut, 58 ekor menghuni penampungan, sementara lima ekor lainnya sedang dalam perawatan intensif oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana guna keperluan observasi medis dan praktik klinis.
Kepala Puskeswan Gianyar, drh Nyoman Arya Dharma, menegaskan bahwa kehadiran shelter ini merupakan langkah nyata dalam menata sistem penanganan hewan telantar. Menurutnya, keberadaan fasilitas ini memungkinkan pengawasan kesehatan hewan dilakukan secara lebih terarah dan terukur.
"Selama ini banyak anjing telantar yang tidak tertangani dengan baik. Dengan adanya shelter ini, penanganannya jadi lebih terarah, mulai dari perawatan hingga pengawasan kesehatannya," ujar Nyoman Arya Dharma.
Selain menjadi tempat perlindungan, Dewata Shelter juga difungsikan sebagai laboratorium sosial dan ruang belajar bagi mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Di sini, para calon dokter hewan dapat mempraktikkan teori medis sekaligus mengasah empati dalam menangani hewan-hewan yang sebelumnya hidup di jalanan.
Perbekel Sukawati, Dewa Gede Dwi Putra, bersama Bendesa Adat Sukawati, I Made Sarwa, memberikan dukungan penuh terhadap operasional shelter ini. Langkah ini dinilai strategis mengingat Sukawati tengah bertransformasi menjadi desa wisata yang mengedepankan aspek kebersihan, ketertiban, dan kenyamanan.
Keberadaan anjing telantar yang tidak terurus sering kali menjadi persoalan di kawasan suci dan bersejarah seperti Pura Desa Sukawati. Penanganan hewan secara terstruktur dianggap krusial untuk menjaga nilai spiritual dan estetika kawasan yang menjadi daya tarik utama wisatawan mancanegara maupun domestik.
Pihak desa adat menilai, lingkungan yang tertata tanpa gangguan anjing liar yang tidak sehat akan memberikan kesan positif bagi pengunjung. Hal ini sejalan dengan visi pengembangan desa yang ingin menyinergikan pariwisata dengan kelestarian lingkungan serta kesejahteraan hewan.
Pengelola Dewata Shelter, Kak Huang, menekankan bahwa shelter ini bukan sekadar tempat pembuangan hewan. Ia menyoroti fenomena pemberian makan di jalanan (street feeding) yang sering kali tidak dibarengi dengan tanggung jawab jangka panjang, seperti kontrol populasi dan kesehatan.
“Selama ini banyak niat baik di masyarakat, seperti memberi makan atau menyelamatkan, namun belum selalu dibarengi dengan pengetahuan dan tanggung jawab jangka panjang,” ungkap Kak Huang.
Ia menambahkan bahwa pemberian makan tanpa pengelolaan yang tepat justru berisiko memicu ledakan populasi dan potensi penyebaran penyakit. Oleh karena itu, Dewata Shelter menerapkan pendekatan terstruktur yang meliputi sterilisasi, vaksinasi, hingga edukasi kepada warga sekitar.
"Di Dewata Shelter, kami menjalankan pendekatan yang lebih terstruktur, mulai dari sterilisasi, vaksinasi, perawatan, hingga edukasi. Ini bukan pekerjaan satu pihak, kami sangat membutuhkan kolaborasi dari masyarakat, desa adat, pemerintah, hingga relawan," tegasnya.
Meski saat ini pendanaan operasional masih ditanggung secara mandiri oleh pemilik, pihak pengelola tetap membuka ruang kolaborasi dan transparansi. Harapannya, pola pikir masyarakat Bali terhadap hewan dapat bergeser ke arah yang lebih cerdas dan beradab, sehingga fenomena pembuangan hewan di tempat umum tidak lagi terjadi.