BALI — Danantara mewajibkan investor pusat data berkapasitas di atas 500 megawatt menyediakan pasokan energi sendiri melalui skema bring your own energy (BYOE). Aturan ini dipasang agar ekspansi data center tidak menggerus pasokan listrik yang dibutuhkan industri dan masyarakat. Pengelolaan air juga masuk syarat, lewat teknologi closed-loop hingga desalinasi.
Jakarta — Managing Director Investment Danantara Investment Management Stefanus Ade Hadiwidjaja menyampaikan kebijakan itu dalam konferensi pers News Asia Forum di Wisma Danantara, Kamis (22/10/2026). Bagi Danantara, masuknya modal ke sektor pusat data tidak boleh dibayar dengan risiko kelangkaan listrik di dalam negeri.
Pusat data skala kecil yang masih menyerap listrik dari jaringan PLN tetap diizinkan beroperasi. Syaratnya, mereka mengikuti kebijakan perusahaan, termasuk ketentuan harga yang menguntungkan PLN.
Angka 500 MW dipakai Danantara sebagai garis pemisah antara fasilitas yang masih bisa menumpang jaringan publik dan yang harus mandiri energi. Fasilitas sebesar itu menyerap daya setara kebutuhan ratusan ribu rumah tangga, sehingga tidak bisa dibebankan seluruhnya ke infrastruktur listrik yang ada.
"Kalau itu data center dalam skala besar, misalnya di atas 500 megawatt, kita sebutnya BYOE, bring your own energy. Jadi kita juga tidak mau mengganggu pasokan energi yang ada di Indonesia sekarang buat industrialisasi dan buat masyarakat," ujar Stefanus.
Pemerintah sendiri sedang mengejar target industrialisasi yang menuntut pasokan listrik besar dan stabil. Karena itu, tambahan beban dari pusat data dinilai perlu dipisahkan sejak tahap perencanaan investasi, bukan diselesaikan setelah fasilitas beroperasi.
Selain energi, Danantara mensyaratkan teknologi pengelolaan air hemat di setiap investasi pusat data. Sistem closed-loop diwajibkan untuk menekan kebutuhan air, sementara pengolahan air dan desalinasi didorong bagi fasilitas yang berdiri dekat laut.
Dua syarat itu, menurut Stefanus, menjadi filter utama Danantara dalam menilai masuknya investor. "Buat kita investasi masuk pasti kita sambut, tapi harus berinvestasi dengan cara yang benar. Paling tidak ada dua hal yang penting yang kita lihat di sini, yaitu dari sisi energi maupun dari sisi air," kata dia.
Pusat data memang dikenal boros air untuk pendinginan. Di sejumlah negara, keluhan warga muncul karena fasilitas AI menyerap air tanah dan menaikkan suhu lingkungan sekitar.
Danantara menyiapkan investasi infrastruktur kecerdasan buatan, mencakup pengembangan pusat data dan pasokan energinya. Sejumlah proyek berskala besar rencananya diumumkan dalam News Asia Forum, meski nilai investasi dan mitra yang terlibat belum dirinci.
Stefanus menegaskan Danantara tidak hanya mengejar arus modal. Setiap investasi harus membawa transfer teknologi, pengetahuan, kapabilitas, dan pengembangan talenta agar Indonesia mendapat manfaat jangka panjang dari industri AI.
"Kita mau bawa capital, kita bawa smart-nya juga masuk ke Indonesia, tapi semua investasi dilakukan dengan cara yang benar dan tepat, baik buat masyarakat, tapi juga buat environment," ujarnya.
Di luar pusat data, Danantara mendorong kelanjutan proyek pengolahan sampah menjadi energi. Perusahaan berharap dapat menandatangani perjanjian usaha patungan untuk delapan kota tambahan dalam forum tersebut.
Syarat BYOE menempatkan Danantara pada posisi yang jarang diambil pengelola investasi: menolak sebagian permintaan investor demi menjaga neraca energi nasional. Bagi calon investor, kelayakan proyek pusat data kini ditentukan bukan hanya oleh harga tanah dan konektivitas, tetapi juga oleh kemampuan membangun pembangkit sendiri.