Ubud Writers and Readers Festival 2026 Angkat Suara Perempuan Bali Lewat 200 Program dan 49 Buku

Penulis: Eri Subagio  •  Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:03:32 WIB
Penulis muda Bali Nityasa Wijaya terpilih sebagai peserta Emerging Writers Programme UWRF 2026.

Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2026 membuka ruang bagi penulis perempuan dan generasi muda Bali melalui Emerging Writers Programme yang digelar 21-25 Oktober 2026. Festival bertema "Samaras: Awareness. Empathy. Action." ini akan menghadirkan lebih dari 200 program, termasuk peluncuran 49 buku dan sejumlah kegiatan gratis di Ubud.

DENPASAR — Penulis muda Bali Nityasa Wijaya terpilih sebagai salah satu peserta Emerging Writers Programme UWRF 2026. Karyanya berjudul "Perempuan Buah Langit" mengangkat perspektif perempuan di tengah masyarakat patriarkal. Nityasa menyebut festival ini sebagai ruang bertemu penulis lintas generasi.

"Bagi saya, UWRF bukan hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan karya, tetapi juga tempat menemukan teman, membangun jejaring, dan berdiskusi dengan sesama penulis lintas generasi," kata Nityasa dalam konferensi pers UWRF 2026 di Sanur, Denpasar, Rabu.

Karya Nityasa terpilih masuk dalam antologi dwibahasa. Menurutnya, pencapaian itu membuat suara perempuan yang ia angkat bisa menjangkau pembaca lebih luas.

Mengapa Nityasa Menilai UWRF Penting bagi Penulis Muda

Nityasa menilai UWRF menjadi ruang penting bagi penulis muda untuk menemukan dan mengembangkan suara kepenulisan. Festival ini juga membuka interaksi dengan pembaca, penulis, dan komunitas sastra dari berbagai latar belakang.

Kehadiran Nityasa sejalan dengan semangat UWRF 2026 yang mengusung tema "Samaras: Awareness. Empathy. Action." Tema ini mengangkat kesadaran, empati, dan tindakan sebagai landasan festival.

Pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati I Ketut Suardana menjelaskan konsep Samaras tidak hanya berkaitan dengan gagasan filosofis. Menurutnya, konsep itu juga menyangkut bagaimana manusia membangun hubungan dengan diri sendiri, sesama, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari.

Festival Tahun ke-23 dan Sejarah Lahirnya UWRF

Pendiri sekaligus Direktur UWRF Janet DeNeefe mengatakan festival yang memasuki tahun ke-23 tersebut terus berupaya menjadi ruang bagi berbagai suara untuk bertemu, berbicara, dan saling mendengarkan.

"Ubud Writers & Readers Festival lahir setelah tragedi bom Bali sebagai sebuah upaya untuk membantu masyarakat menyembuhkan diri dan perlahan melangkah maju," ujarnya.

Menurut Janet, semangat mempertemukan orang, membuka ruang percakapan, dan membangun kembali rasa kebersamaan terus menjadi bagian penting dari penyelenggaraan UWRF.

Penulis Bali Lain yang Akan Hadir

Selain Nityasa, sejumlah nama dari Bali akan hadir dalam UWRF 2026. Mereka antara lain Prof I Nyoman Darma Putra, Ni Nyoman Ayu Suciartini, Agung Wardana, Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, dan Kadek Sonia Piscayanti.

UWRF 2026 akan menghadirkan lebih dari 200 program di Ubud. Rangkaian acara meliputi diskusi, peluncuran 49 buku, pemutaran film, pementasan teater, pembacaan puisi, serta berbagai kegiatan gratis yang terbuka bagi masyarakat.

Festival juga menghadirkan sejumlah program yang mengangkat isu perempuan, budaya, teknologi, dan perkembangan masyarakat. UWRF 2026 menjadi ruang pertemuan antara penulis lintas generasi dengan pembaca dari Indonesia maupun berbagai negara.

Reporter: Eri Subagio
Sumber: bali.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top