DENPASAR — Direktur RS Mata Bali Mandara, dr. Ni Made Suryanadi, Sp.M(K)., menyebut volume kunjungan harian rumah sakit itu kerap menembus 200 pasien pada kondisi tertentu. Sebagai rumah sakit khusus mata kelas A, beban layanan itu ditopang 14 klinik subspesialis, ditambah poliklinik anestesi dan dua poliklinik penyakit dalam.
Data kunjungan ini muncul bertepatan dengan peringatan World Sight Day 2026. Tingginya angka kunjungan dibaca manajemen sebagai sinyal bahwa kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan mata masih jauh di atas kapasitas yang tersedia saat ini.
Pasien yang datang ke RS Mata Bali Mandara tidak semuanya berdomisili di Bali. Rumah sakit ini menerima rujukan dari Lombok, Surabaya, dan Jakarta, terutama dari kawasan Indonesia Timur yang belum memiliki fasilitas serupa.
Kondisi itu memperkuat posisi RS Mata Bali Mandara sebagai salah satu pusat rujukan pelayanan mata di kawasan timur Indonesia. Bagi pasien dari luar daerah, perjalanan jauh menjadi satu-satunya pilihan untuk mendapat penanganan subspesialis.
Dari seluruh layanan yang tersedia, layanan retina mencatat kunjungan paling padat. Dalam sebulan, jumlah pasien pada layanan tersebut bisa mencapai sekitar 5.000 orang.
Selain rawat jalan, rumah sakit menjalankan sekitar 30 hingga 40 tindakan operasi setiap hari. Operasi dilakukan melalui layanan reguler maupun VIP, bergantung pada kebutuhan dan pilihan pasien.
Untuk menunjang volume tersebut, RS Mata Bali Mandara mengembangkan sejumlah fasilitas diagnostik. Tersedia biometrik, Humphrey, electrodiagnostic, foto fundus, UBM, corneal topography, dan IOL Master.
Layanan laser juga tersedia lengkap, mulai dari retinal laser, multipurpose photocoagulation laser, argon laser, YAG laser, hingga LIO atau laser intraokular. Peralatan itu dipakai untuk menangani berbagai gangguan mata yang membutuhkan tindakan presisi.
Komposisi pasien didominasi peserta JKN. "Sekitar 80 persen pasien kita adalah pasien JKN," ujar dr. Suryanadi.
Angka itu menunjukkan layanan mata di fasilitas ini sangat bergantung pada skema jaminan kesehatan nasional. Artinya, akses warga terhadap penanganan gangguan mata sebagian besar ditopang pembiayaan negara.
Manajemen menyatakan terus memperkuat kapasitas pelayanan seiring tingginya permintaan. Langkah penguatan menyasar layanan subspesialistik dan fasilitas penunjang diagnostik, dua area yang paling menentukan kecepatan penanganan pasien.