BADUNG — Program bertajuk Aussie Beef Big Flavour – Experience the Queensland Beef in Asian & Western Flavours itu menyasar langsung sektor restoran dan foodservice, bukan lagi lewat rak supermarket seperti promosi sebelumnya. Menu khusus bertajuk The Cliff Cut: An Australian Beef Experience disiapkan untuk periode promosi tersebut.
Rangkaian sajiannya terdiri dari amuse bouche, appetizer Aussie Beef Rump Cap Nolan, main course Aussie Beef Tenderloin 8+ Wagyu, serta dessert Chocolate & Caramel. Chef Chandra Yudasswara, yang juga Chef Owner Cliff at Canna Bali, meracik seluruh menu itu untuk menunjukkan fleksibilitas Queensland Beef di dapur Asia maupun Barat.
Bali dinilai punya pasar pariwisata dan kuliner yang kuat, sekaligus jadi tujuan favorit wisatawan Australia. Keberadaan restoran, hotel, dan chef berstandar internasional membuat Bali dianggap cocok memperkenalkan produk daging premium.
Chief Representative MLA Indonesia, Christian Haryanto, menyebut Bali sebagai salah satu pasar kuliner paling menarik di Asia Tenggara untuk daging sapi premium Australia.
"Bali memiliki salah satu pasar kuliner paling menarik di Asia Tenggara untuk daging sapi premium Australia. Melalui kolaborasi dengan Trade and Investment Queensland dan Tanaka Graha Indonesia, kami ingin menghadirkan Queensland Beef kepada konsumen Bali yang menghargai kualitas, asal produk yang terpercaya, serta cita rasa yang baik," ujar Christian.
Menurut Christian, kegiatan tersebut tidak sekadar berorientasi promosi produk. Ajang ini juga jadi kesempatan memperkenalkan karakteristik Queensland Beef kepada konsumen maupun pelaku industri kuliner.
Queensland Trade and Investment Commissioner Indonesia, Tony Burnett, menyebut Queensland sebagai negara bagian penghasil daging sapi terbesar di Australia. Kontribusinya mencapai sekitar 45 persen dari total produksi daging sapi Australia.
Bentang alam Queensland yang luas, dari wilayah tropis di utara hingga Darling Downs yang subur, disebut memberi lingkungan yang mendukung produksi sapi berkualitas. Produk Queensland Beef tersedia dalam pilihan grass-fed maupun grain-fed, diproduksi lewat sistem peternakan dan standar produksi berkelanjutan.
"Queensland merupakan negara bagian penghasil daging sapi terbesar di Australia dan menyumbang sekitar 45 persen dari total produksi daging sapi Australia. Bentang alamnya yang luas, mulai dari wilayah tropis di utara hingga Darling Downs yang subur, memberikan lingkungan yang mendukung produksi sapi berkualitas," kata Tony.
Selain memasok daging sapi premium, industri peternakan Queensland berperan dalam rantai pasok sapi hidup ke Indonesia. Tony menyebut pasokan tersebut turut mendukung kebutuhan pangan masyarakat Indonesia.
"Melalui program ini, kami ingin memperkenalkan kepada konsumen Indonesia kualitas, asal-usul dan cita rasa Queensland Beef. Kolaborasi dengan Cliff at Canna Bali juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan ekonomi dan kuliner antara Queensland dan Indonesia," ujarnya.
Tony menambahkan, sebagian besar produksi daging sapi Australia berasal dari Queensland. Salah satu produk dari Queensland bahkan baru-baru ini meraih penghargaan internasional sebagai salah satu brand steak terbaik dunia pada 2026.
Dari sisi konektivitas, Bali memiliki penerbangan langsung menuju sejumlah destinasi di Queensland. Faktor itu dinilai memperkuat alasan pemilihan Bali sebagai lokasi promosi.
"Bali merupakan lokasi yang sangat baik untuk kegiatan ini. Ada banyak wisatawan Australia yang datang setiap tahun, ditambah dengan keberadaan chef dan industri hospitality yang memiliki kualitas tinggi. Dari sisi konektivitas, Bali juga memiliki penerbangan langsung menuju sejumlah destinasi di Queensland," jelas Tony.
Trade and Investment Queensland juga menjalankan program yang mempertemukan chef dari berbagai negara dengan industri peternakan di Queensland. Lewat program itu, para chef dapat melihat langsung proses produksi, peternakan, hingga rantai pasok sebelum daging sampai ke konsumen.
Setelah Bali, kegiatan serupa akan dikembangkan di sejumlah daerah lain di Indonesia. Promosi kini diarahkan langsung ke sektor restoran dan foodservice, berbeda dari pola sebelumnya yang lebih banyak memanfaatkan jaringan supermarket.