BALI — Peresmian pabrik yang berlangsung pada Senin (7/9/2026) itu menandai peralihan status BYD dari importir menjadi produsen lokal. Dua model yang sudah dirakit di fasilitas tersebut adalah Atto 1 dan M6 DM, dengan rencana penambahan model lain dalam waktu dekat.
Head of Public and Government Relations BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menjelaskan bahwa struktur fiskal perusahaan tidak berubah pasca-produksi lokal dimulai. Kebijakan insentif pemerintah dengan skema kompensasi investasi membuat biaya produksi setara dengan skema impor utuh (CBU) sebelumnya.
"Ada insentif dengan kompensasi investasi, sehingga membuat struktur fiskalnya sama, baik saat impor maupun produksi di sini. Artinya, tidak ada perubahan harga menjadi lebih murah," ujar Luther dalam keterangan resminya.
Luther menegaskan bahwa harga jual sangat bergantung pada skala ekonomi yang mampu dicapai pabrik. Jika volume produksi tidak diimbangi angka penjualan yang optimal, potensi kenaikan harga justru mengintai.
"Makanya, sekarang fokus utama kami adalah mengoptimalkan kapasitas produksi yang dimiliki, apalagi kapasitas pabrik ini bisa mencapai 150 ribu unit per tahun," tegasnya.
Kapasitas 150 ribu unit tersebut terbilang masif untuk standar industri otomotif nasional. Angka ini menempatkan BYD sejajar dengan pabrikan besar yang telah lebih dulu membangun fasilitas produksi di Indonesia.
Langkah BYD membangun pabrik tidak lepas dari kebijakan insentif pemerintah yang mereka manfaatkan sebelumnya. Perusahaan asal Tiongkok itu sempat mengimpor sekitar 92 ribu unit kendaraan utuh sebagai bagian dari skema tersebut.
Sebagai kompensasi atas fasilitas impor yang diberikan, BYD memiliki kewajiban memproduksi unit secara lokal dalam jumlah yang sama. Target itu harus direalisasikan dalam periode dua tahun ke depan.
"Kami melakukan impor bukan sekadar untuk jualan, melainkan sebagai bentuk kompensasi dengan mengenalkan terlebih dahulu ke pasar produk-produk yang nantinya pasti kami produksi di sini," ungkap Luther.
Dengan beroperasinya pabrik Subang, BYD mulai mengurangi ketergantungan pada pasokan kendaraan utuh dari luar negeri. Penghentian skema impor dilakukan secara bertahap seiring peningkatan kapasitas produksi lokal.
Kebijakan ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk memasok pasar domestik menggunakan hasil produksi dalam negeri. Konsumen Indonesia tidak perlu berekspektasi adanya potongan harga besar dalam waktu dekat, karena fokus utama BYD saat ini adalah mengejar volume produksi optimal di pabrik barunya.